
Menjelang Lebaran, satu pertanyaan sederhana yang hampir selalu muncul di kepala banyak orang adalah “Nanti pakai apa ya?” Pertanyaan ini terdengar sepele, tapi nyatanya membawa beban yang tidak kecil. Linimasa media sosial mulai dipenuhi iklan diskon, koleksi Lebaran terbaru, hingga konten Lebaran look dari influencer dan brand fashion.
Di tengah semangat Ramadhan yang identik dengan refleksi dan kesederhanaan, dorongan untuk tampil sempurna justru semakin bising. Lebaran pun perlahan berubah menjadi momen di mana penampilan mendapat sorotan besar. Bukan hanya soal rapi dan sopan, tetapi juga soal terlihat “baru”, “niat”, dan sesuai tren kekinian.
Tanpa disadari, outfit Lebaran kerap menjadi tolok ukur tidak tertulis tentang kepantasan sosial. Dari kumpul keluarga hingga unggahan OOTD di media sosial, penampilan seolah ikut menentukan bagaimana seseorang dipersepsikan di hari raya.
Dalam kebanyakan keluarga, membeli baju baru saat Lebaran masih dianggap bagian dari tradisi. Kalimat seperti “Lebaran masa nggak beli baju?” terdengar sangat akrab dan seringnya diucapkan tanpa ada maksud buruk. Namun, di baliknya ada ekspektasi sosial yang kuat. Baju baru seolah menjadi simbol kesiapan menyambut hari kemenangan, bahkan dianggap bentuk penghargaan terhadap momen Lebaran itu sendiri.
Masalahnya, tradisi ini sering kali berjalan tanpa mempertimbangkan konteks personal. Tidak semua orang memiliki kondisi finansial yang sama, tidak semua merasa nyaman mengikuti arus tren, dan tidak semua ingin terus menambah isi lemari.
Namun, standar sosial tetap berjalan satu arah. Media sosial memperkuatnya dengan visual seragam berupa outfit serba baru, warna senada, hingga konsep keluarga yang terlihat “sempurna”. Pada titik ini, Lebaran bukan lagi sekadar perayaan, melainkan panggung sosial yang cukup melelahkan.
Tekanan soal outfit Lebaran sering kali tidak diakui secara terbuka. Banyak orang memendam rasa tidak enak ketika harus mengenakan pakaian lama, merasa kurang usaha, atau takut dinilai tidak pantas. Disisi lain, ada pula yang memaksakan diri berbelanja demi menghindari rasa canggung atau komentar lingkungan sekitarnya.
Perempuan berada di posisi yang paling rentan dalam tekanan ini. Sejak lama, industri fashion menjadikan perempuan sebagai target utama tren musiman, termasuk koleksi khusus Lebaran. Standar “cantik”, “rapi”, dan “layak tampil” kerap dibebankan lebih berat pada perempuan.
Akibatnya, Lebaran yang seharusnya menjadi momen penuh kehangatan dan kebersamaan justru berubah menjadi sumber FOMO, insecure, hingga tekanan finansial yang tidak perlu.
Di tengah budaya konsumsi yang semakin agresif, konsep rewear hadir sebagai alternatif yang lebih sadar. Rewear bukan berarti mengabaikan penampilan atau tampil seadanya. Justru sebaliknya, rewear mendorong kreativitas dalam memaksimalkan pakaian yang sudah dimiliki.
Lemari pakaian sering kali menyimpan banyak potensi yang terlupakan. Gamis lama bisa terlihat berbeda dengan tambahan belt atau permainan aksesori. Tunik dapat dipadukan ulang dengan bawahan seperti rok atau celana yang berbeda modelnya untuk menciptakan siluet baru. Outer sederhana pun mampu memberi kesan segar pada dress polos yang sudah sering dipakai.
Dengan sedikit eksplorasi, outfit Lebaran tidak harus selalu berasal dari belanja baru. Rewear juga mengajarkan hubungan yang lebih sehat dengan pakaian. Kita tidak lagi melihat baju sebagai sesuatu yang cepat usang secara tren, melainkan sebagai bagian dari identitas personal yang bisa terus dieksplorasi.
Selain rewear, konsep repeat masih sering disalahpahami. Mengulang outfit kerap dianggap membosankan, tidak kreatif, atau bahkan memalukan, terutama di era media sosial. Padahal, dalam praktik sustainable fashion, repeat justru menjadi langkah penting.
Mengulang pakaian menandakan bahwa kita benar-benar menggunakan apa yang dimiliki, bukan sekadar membeli untuk sekali pakai. Banyak figur publik global mulai menunjukkan bahwa outfit repeat adalah hal yang wajar dan bertanggung jawab. Namun, budaya digital yang menuntut visual selalu baru membuat kebiasaan ini sulit diterima secara luas.
Menormalisasi repeat berarti melepaskan diri dari tuntutan tampil berbeda setiap saat. Lebaran tidak kehilangan maknanya hanya karena kita mengenakan pakaian yang pernah dipakai sebelumnya. Justru, dengan mengulang outfit, kita memberi nilai lebih pada pakaian itu sendiri.
Inti dari semuanya adalah reclaim, yaitu mengambil kembali makna Lebaran dari tekanan sosial yang diam-diam membebani. Reclaim berarti menggeser fokus dari penampilan ke esensi, dari konsumsi ke kesadaran, dan juga dari pembuktian sosial ke nilai personal.
Lebaran sejatinya adalah tentang pulang, tentang maaf yang akhirnya terucap, dan tentang pertemuan yang lama ditunggu. Ia bukan kompetisi gaya, bukan ajang pembandingan, dan bukan tolok ukur status. Ketika kita terlalu sibuk memikirkan apa yang akan dikenakan, kita berisiko kehilangan ruang untuk benar-benar hadir di momen tersebut.
Mindful fashion bukanlahan konsep yang rumit atau eksklusif. Ia bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana yang realistis. Beberapa di antaranya :
Langkah-langkah ini bukan tentang melarang belanja, melainkan tentang membuat keputusan yang lebih sadar dan sesuai kebutuhan.
Merayakan Lebaran tidak harus selalu mengisi lemari dengan pakaian baru. Hari raya tetap bisa terasa istimewa tanpa harus ada tambahan pakaian yang mungkin akan jarang dipakai kembali. Ada kelegaan tersendiri ketika kita tidak lagi merasa dikejar standar sosial, tidak terbebani rasa bersalah karena mengulang outfit, dan tidak terus membandingkan diri dengan orang lain.
Mungkin, cara baru merayakan Lebaran bukan terletak pada apa yang kita kenakan, melainkan bagaimana kita memaknainya. Dengan rewear, repeat, dan reclaim, kita belajar untuk lebih berdamai dengan diri sendiri, menghargai apa yang sudah dimiliki, dan mengembalikan Lebaran pada esensinya. Sebuah perayaan yang ringan, jujur, dan penuh rasa syukur.
Temukan artikel fashion terlengkap hanya di Laruna, stay stylish, stay updated!




