Monday, 01 January 2022

Digital Fashion: Fashion Berkelanjutan di Era Digital?

Konsep digital fashion masih cukup baru digunakan, populer di era pandemi bersama dengan popularitas Non-Fungible Token (NFT) dan metaverse.
January 11, 2023  | Levina Chrestella Theodora
digital fashion
 

Beberapa tahun terakhir telah membawa pertumbuhan baru ke realitas digital fashion, membentuk sistem peluang baru (Bigger, 2022).

digital fashion
YouTuber Safiya Nygaard mencoba menggunakan digital fashion untuk konten video YouTubenya. (sumber: YouTube/Safiya Nygaard)

Walau begitu, kita semua sudah sangat familiar dengan digital fashion. Pernah membeli baju untuk karakter game mu seperti di Sims atau MapleStory? Atau bahkan skin di Mobile Legends, Fortnite, dan sebagainya. Baju-baju atau skin di karakter game mu itu termasuk dalam digital fashion loh.

Apa Itu Digital Fashion

Menurut Särmäkari (2021), fashion digital adalah alat proses untuk membantu desain dan ruang mode, budaya, dan komunitas baru. Istilah ini mengacu pada praktik yang menghasilkan pakaian virtual tiga dimensi sebagai prototipe atau simulasi sampel untuk kemungkinan pakaian fisik, representasi digital yang terdata, atau produk akhir itu sendiri, yang hanya dikenakan di ruang virtual di mana avatar yang berpakaian menyatu dengan tubuh fisik dan identitas kita. 

digital fashion
Brand Louis Vuitton mendesain skin untuk game League of Legends. (sumber: Riot Games)

Nah, saat ini, tidak hanya avatar game kamu yang bisa menggunakan baju digital, kamu juga bisa mengenakan baju digital tentunya di ruang virtual. Merek fashion virtual pertama, Tribute Brand, memungkinkan konsumen untuk mengunggah foto diri mereka sendiri tanpa mempertimbangkan ukuran atau jenis kelamin; konsumen kemudian menerima pakaian digital tanpa polusi (Fu & Liang, 2022).

Ditambah lagi, fashion digital memberikan desainer dan konsumen untuk menjadi sekreatif mungkin dan seunik mungkin dalam desain bajunya. Seorang desainer dapat mendesain baju seaneh mungkin tanpa harus memikirkan kain dan bahan, bahkan membuat baju yang tidak akan mungkin direalisasikan di dunia fisik. Karena itu, kamu akan melihat banyak pakaian-pakaian unik saat melihat contoh pakaian digital di media sosial. 

Baca juga:   Mengenal Fashion Activism, Bersuara Lewat Pakaian

Digital Fashion & Sustainability

Meningkatnya kebutuhan akan operasi bisnis fashion yang lebih berkelanjutan akibat pandemi, bila digabungkan dengan prospek bahwa bisnis mungkin tidak akan pernah seperti biasanya lagi, memerlukan praktik yang dipimpin oleh e-commerce yang inovatif (Silva & Bonetti, 2021). Nah, salah satunya, dengan digital fashion.

Berbagai penelitian tidak hanya menyebut betapa inovatifnya dunia digital fashion saat ini, tapi bagaimana fashion digital dapat menjadi salah satu solusi dan cara industri fashion untuk bisa menjadi lebih keberlanjutan. Apakah benar?

Pertanyaan menarik dipertanyakan oleh Bigger (2022). Dalam tulisannya, ia bertanya apakah jika kita hanya konsumsi produk fashion digital, apakah itu tidak sebuah repetisi dari kebiasaan produksi massal yang murah di industri fashion yang terjadi saat ini? 

Bagaimana Digital Fashion dapat Mendorong Keberlanjutan

Terdapat berbagai keuntungan untuk lingkungan jika manusia mengadopsi fashion digital. Mengutip riset Silva & Bonetti (2021), dengan fashion digital, mesin dapat mengetahui selera dan ukuran seseorang dengan lebih baik. 

digital fashion
Baju digital marak di era metaverse. (sumber: Instagram/@xtended_identity)

Hal ini memungkinkan konsumen untuk tidak perlu mencoba pakaiannya langsung, mengurangi potensi pengembalian baju, dengan demikian menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan. Konsumen akan memiliki pengalaman berbelanja yang lebih produktif dan efisien.

Selain itu, fashion digital dapat membantu para brand mengurangi produksi berlebih. Hana Zeqa, pendiri Fight or Flight, studio teknologi kostum dan fesyen, yang melakukan wawancara dengan The Recursive mengatakan bahwa digital fashion memungkinkan mereka untuk membuat pakaian sesuai pesanan. 

“Dengan memesan barang-barang yang kita tahu pasti kita suka, kita bisa mengurangi kuantitas produksi, sehingga mengurangi sisa dan limbah tekstil,” ucap Hana kepada The Recursive. Konsumen yang hanya ingin menggunakan pakaian untuk posting di Instagram, digital fashion dapat menjadi solusinya; menghindari tindakan hanya menggunakan baju sekali.

Baca juga:   Slow Fashion: Tak Hanya Memiliki Banyak Keunggulan tapi Juga Ramah Lingkungan

Beberapa brand juga menunjukkan dampak positif penerapan fashion digital. Salah satunya oleh DressX. Mereka mengukur dampak pembuatan garmen digital versus garmen fisik pada tahun 2020. Produksi garmen digital menghasilkan 97% lebih sedikit CO2 dan menghemat rata-rata 3.300 liter air per garmen.

Apakah Digital Fashion Benar-Benar Berkelanjutan?

Terdapat berbagai argumentasi mengenai apakah fashion digital benar-benar berkelanjutan. Kenapa? konsep fashion digital mirip dengan NFT, dan mungkin beberapa dari kalian yang tahu, kripto dan NFT tidak berkelanjutan karena mereka membutuhkan proses yang menggunakan energi yang intensif. 

Banyak jenis blockchain termasuk Bitcoin dikaitkan dengan emisi tahunan. Truby et al., (2022) mengatakan bahwa emisi karbon dari transaksi NFT pada Oktober 2021 saja diperkirakan akan membunuh 18 orang, dan biaya sosial semacam itu sangat mengecilkan hati para artists. Ini hanya sebagian kecil dari 8326 kematian yang tidak perlu di masa depan yang disebabkan oleh emisi tahunan Ethereum dan 18.818 kematian yang akan disebabkan oleh blockchain Bitcoin yang dihasilkan dari emisi 2021nya.

Walau begitu, berbagai inovasi dan usaha hadir untuk membuat proses mining kripto lebih hemat energi. Apakah digital fashion benar-benar berkelanjutan sepertinya bergantung pada tergantung pada sistem digital yang sebuah brand gunakan untuk membuat dan menjual pakaian. Intinya, untuk menjadi lebih berkelanjutan di dunia virtual, penggunaan energi harus seminimal mungkin.

Bigger (2022) memperingatkan bahwa dunia sustainable fashion cenderung terpaku dengan inovasi dengan penggunaan mesin. Perlu diingat untuk tidak salah mengartikan penggunaan mesin dengan penyelesaian keberlanjutan atau konsumsi. 

File png tidak dapat memperbaiki fashion’s wicked problem. Pendekatan mode digital yang tidak kritis sudah mengulangi gangguan keberlanjutan dari sistem mode masa lalu, dan karenanya diperlukan kehati-hatian. Proses komputasi memiliki batasan dan jejaknya sendiri yang harus dipertanggungjawabkan (Bigger, 2022).

Baca juga:   Circular Fashion: Ekonomi Sirkular di Industri Fashion

Konklusi

Tidak ditemukan banyak riset ilmiah terkait digital fashion dan keberlanjutan. Diperlukan berbagai riset dan diskusi untuk menentukan apakah fashion digital benar-benar berkelanjutan. Walau begitu, tidak pesimis, digital fashion dapat menjadi salah satu cara dan tahap awal pada membuat fashion berkelanjutan. Para brand harus memastikan bahwa mereka menggunakan sistem yang tidak boros energi saat membuat dan menjual produk mereka.
Tentu saja, digital fashion saja tidak akan cukup untuk membuat jejak emisi yang dikeluarkan oleh industri fashion untuk berkurang. Industri fashion dan publik perlu mengadopsi berbagai solusi yang ada untuk mencapai industri fashion yang lebih berkelanjutan.


With Laruna, you can combine your love for fashion and the planet by choosing sustainable options that fit your style and contribute to positive changes. Want to join Laruna as a content contributor? We'd love to spend time with you!

Reference: 
The Fashion Studies Journal. Generative Fashion: Companion Planting Fashion’s Digital Futures. https://www.fashionstudiesjournal.org/digital-engagement-c/2022/8/9/generative-fashion-companion-planting-fashions-digital-futures (Diakses pada: 23 Oktober 2023)

Särmäkari. "Digital Fashion" on Its Way from Niche to the New Norm. https://www.researchgate.net/publication/354544146_Digital_Fashion_on_Its_Way_from_Niche_to_the_New_Norm (Diakses pada: 23 Oktober 2023)

Fu & Liang. Sinicized Exploration of Sustainable Digital Fashion: Chinese Game Players’ Intention to Purchase Traditional Costume Skins. https://www.mdpi.com/2071-1050/14/13/7877 (Diakses pada: 23 Oktober 2023)

Silva & Bonetti. Digital humans in fashion: Will consumers interact?. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0969698920314375?via%3Dihub (Diakses pada: 23 Oktober 2023)

DressX. https://docsend.com/view/kd4zcgw3zui33sta (Diakses pada: 23 Oktober 2023)

The Recursive. Is virtual fashion more eco-friendly? Trends and insights from SEE founders. https://therecursive.com/is-virtual-fashion-more-eco-friendly-trends-and-insights-from-see-founders/ (Diakses pada: 23 Oktober 2023)

Truby et al.,. Blockchain, climate damage, and death: Policy interventions to reduce the carbon emissions, mortality, and net-zero implications of non-fungible tokens and Bitcoin. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S221462962200007X (Diakses pada: 23 Oktober 2023)
Be a Contributor and 
Write for Us
Tell me more
Copyright © 2023 - Style by Laruna - All rights reserved
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram