Monday, 01 January 2022

Jeans Denim, si Perusak Lingkungan

January 9, 2023  | Levina Chrestella Theodora
jeans denim
 

Kebanyakan orang di dunia ini pasti memiliki setidaknya satu pasang celana jeans denim (jins). Di mana pun kita pergi, pasti akan ada setidaknya satu hingga dua orang yang memakai celana jin. Bingung mau pakai baju apa? celana jin yang dipasangkan dengan atasan putih saja sudah terlihat keren. Tapi siapa sangka, jins favoritmu merusak lingkungan– bumi. 

Kenapa hanya jins? Bukankah keseluruhan industri fashion merusak lingkungan? Betul, namun ternyata, jins merupakan salah satu produk pakaian yang terburuk. Produksi jeans denim di dunia lebih dari 3,5 miliar unit, maka kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh industri ini juga cukup besar (Kalesh et al., 2020).

Bagaimana Jeans denim merusak lingkungan

Mengutip Ellen Macarthur Foundation, kebanyakan jeans saat ini dibuat, dijual, dipakai, dan kemudian dibakar atau dibuang ke tempat pembuangan sampah. Jins membutuhkan sumber daya dalam jumlah besar, seperti pestisida, air, dan energi, dan cara mereka dirancang dan dibuat membuat jeans sulit untuk didaur ulang setelah digunakan. Parahnya, kurang dari 1% bahan yang digunakan untuk memproduksi pakaian didaur ulang.

Jeans adalah salah satu jenis pakaian yang paling berpolusi dan boros yang kita buat. Sepasang jeans biasa menggunakan hingga 7.000 liter air dan bahan kimia beracun dan pewarna secara rutin digunakan dalam produksinya,” tulis Ellen Macarthur Foundation.

Industri fashion memang dikenal dengan konsumsi airnya yang sangat besar. Industri mode sendirian bertanggung jawab atas lebih banyak emisi karbon daripada gabungan penerbangan dan pelayaran internasional dan menggunakan sekitar 93 miliar meter kubik air setiap tahun (Bailey et al., 2022).

jeans denim
Celana jeans menghabiskan banyak sumber daya. (Sumber: Unsplash/Iandall)

“Industri tekstil dan pakaian jadi– a thirsty business,” tulis Alina Kaseva dalam presentasinya. Industri ini merupakan pengguna air terbesar ke-3 secara global dan diperkirakan industri fashion saat ini menggunakan sekitar 1,5 triliun liter air per tahun. 

Baca juga:   Digital Fashion: Fashion Berkelanjutan di Era Digital?

Lalu, bahan utama celana jins adalah katun, yang dalam banyak kasus merupakan tanaman yang sangat berpolusi, diwarnai dengan indigo sintesis, pewarna dengan tingkat fiksasi yang sangat buruk (Luiken, n.d.).

Mengutip DW, pewarna indigo sintetis memiliki bahan kimia beracun seperti sianida, yang dikenal karena penggunaannya sebagai racun. Selain pewarna dan boros air, tanaman katun itu cenderung menggunakan pupuk dan pestisida yang banyak. 

Selain bahan katun, jins pasti memiliki kancing, ritsleting, dan paku (atau mungkin aksesoris lain)

Bahan-bahan tersebut terbuat dari logam, dimasukkan ke dalam jeans dan membuat daur ulang jeans bekas menjadi lebih sulit. Belum lagi jika jins diberi tampilan usang yang  sangat mengurangi masa pakai teknis jeans (Luiken, n.d.).

Secara keseluruhan, dari pengambilan bahan hingga jins tersebut dijual ke konsumen dan akhirnya dibuang karena usang, kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh celana jins cukup masif. Bahkan, penelitian menemukan bahwa peneliti menemukan banyak sekali serat denim biru dalam sampel sedimen dari Samudra Arktik yang terpencil di utara Kanada– sangat jauh dari aktivitas manusia (Adams et al., 2021).

Solusi untuk industri fashion

Mendesain ulang produk fashion ikonik ini krusial dalam perjalanan menuju ekonomi sirkular untuk fashion (Ellen Macarthur Foundation, 2021).

jeans denim
Fashion sirkular solusi untuk produksi sustainable jeans. (Sumber: Unsplash/Jasmin Chew)

Ellen Macarthur Foundation dalam laporannya menawarkan berbagai solusi untuk membuat produksi jins lebih ramah lingkungan (baca selengkapnya di sini).

Jeans denim yang dapat digunakan lebih banyak

Digunakan lebih banyak. Agar bisa terus digunakan, bisnis harus menjaga jins pada nilai yang tertinggi (kualitas terbaik). Bisnis juga dapat menerapkan rental (penyewaan) agar jins bisa digunakan berulang kali. 

Jins dirancang dan diproduksi untuk bertahan lama, dan selaras dengan model bisnis yang akan memberikannya. Bisnis memberdayakan pengguna dengan pengetahuan, alat, dan layanan yang diperlukan untuk menjaga ketahanan fisik (cara menyuci jeans, dll) dan emosional jins mereka.

Baca juga:   Unveiling The Bottega Veneta Spring/Summer 2023 Fashion Trends: From Casual Comfort to Historical Revivals

Tidak hanya bertahan lama secara fisik, produk jins juga harus bertahan lama di hati para konsumen– dapat selalu disukai dan digemari oleh konsumen dalam waktu yang lama (timeless).

Upcycled Jeans

Made to be made again. Produk dan material jins yang dirancang dan diproduksi dapat dibongkar sehingga dapat digunakan kembali, dibuat ulang, dan didaur ulang. Jins dalam praktiknya dikumpulkan dan disortir untuk digunakan kembali, dibuat ulang dan didaur ulang. Jika penggunaan telah mencapai siklus maksimum, dapat dikomposkan.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, jins memiliki kancing, ritsleting, dan aksesories lainnya yang tidak dapat dibongkar– membuat sebagian jins tidak dapat didaur ulang. Oleh karena itu, disarankan bagi para produsen jins untuk menggunakan kancing, ritsleting, dan aksesories lainnya yang dapat dicabut atau dibongkar dengan gampang.

Jeans denim terbuat dari bahan dan proses yang aman, berkelanjutan, dan terbarukan

Dibuat dari sumber yang aman dan didaur ulang atau terbarukan, di mana jins dan bahannya bebas dari zat berbahaya. Produksi dan penggunaan jins tidak membuang zat berbahaya ke lingkungan juga kesehatan.

Zat yang digunakan pada semua tahap proses produksi seringkali tertinggal dalam tekstil, baik secara sengaja dan tidak sengaja. Hal ini menimbulkan kekhawatiran karena efek buruk yang dapat ditimbulkan pada orang-orang dan lingkungan. 

Dampak yang dilaporkan berkisar dari reaksi alergi, penyakit pernapasan, dan peningkatan

kasus kanker pada manusia hingga hilangnya kehidupan akuatik. Beberapa bahan kimia yang digunakan dapat bertahan di lingkungan dan dapat terakumulasi dari waktu ke waktu. 

Berbagai kimia yang tidak diperbolehkan seperti: elektroplating konvensional, finishing batu, kalium permanganat, dan peledakan pasir. Air yang digunakan juga tidak boleh berlebihan, volume air yang digunakan untuk kain denim maksimal 30 liter per-meter.

Baca juga:   Temukan Gaya Personal yang Unik dan Otentik

Produksi tidak menggunakan sumber daya yang terbatas: kebutuhan akan sumber daya alam diminimalkan dengan meningkatkan penggunaan produk dan bahan yang ada. Di mana sumber daya alam dibutuhkan, bahan merupakan bahan baku terbarukan yang bersumber dari praktik produksi regeneratif.

Konklusi

Dengan hampir dua miliar pasang yang diproduksi setiap tahun, jeans adalah kunci untuk transisi industri mode menuju keberlanjutan. Tidak hanya recycling atau menjual jins bekas, produsen jins juga dapat menerapkan konsep dan prinsip circular fashion agar dapat membuat bisnisnya berkelanjutan secara keseluruhan.

Solusi ini tidak hanya berlaku kepada produsen jins, tetapi kepada konsumen juga. Di dunia dimana orang merasa gengsi untuk menggunakan baju atau celana lebih dari sekali, para konsumen dapat menjadi lebih berkelanjutan dengan menggunakan jinsnya berulang kali, membaca cara menjaga & menyuci jins, membeli jins dari brand yang menerapkan fashion yang sirkular atau regeneratif.


With Laruna, you can combine your love for fashion and the planet by choosing sustainable options that fit your style and contribute to positive changes. Want to join Laruna as a content contributor? We'd love to spend time with you!

Reference: 
https://ellenmacarthurfoundation.org/circular-examples/mud-jeans (Diakses pada: tanggal 31 Oktober 2022).

https://ellenmacarthurfoundation.org/the-jeans-redesign (Diakses pada: tanggal 31 Oktober 2022).

https://emf.thirdlight.com/link/1jxg1ysqnxil-mz55wp/@/preview/1 (Diakses pada: tanggal 31 Oktober 2022).

https://www.researchgate.net/publication/359597310_The_Environmental_Impacts_of_Fast_Fashion_on_Water_Quality_A_Systematic_Review (Diakses pada: tanggal 31 Oktober 2022).

https://textileandfashion2030.se/wp-content/uploads/2020/02/AlinaKlaseva.pdf (Diakses pada: tanggal 31 Oktober 2022).

https://www.academia.edu/38762317/Environmental_aspects_of_blue_jeans_Blue_jeans (Diakses pada: tanggal 31 Oktober 2022).

https://ojs.cnr.ncsu.edu/index.php/JTATM/article/view/16405. Diakses pada tanggal 31/10/22 (Diakses pada: tanggal 31 Oktober 2022).

https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0048969721022257?via%3Dihub (Diakses pada: tanggal 31 Oktober 2022).
Be a Contributor and 
Write for Us
Tell me more
Copyright © 2023 - Style by Laruna - All rights reserved
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram