
ndustri fashion sedang berada pada titik krusial. Bertahun-tahun tren fast fashion mendorong produksi tekstil dalam jumlah masif, menghasilkan pakaian yang hanya dipakai beberapa kali sebelum dibuang. Akibatnya, limbah tekstil global meningkat drastis. Jika tidak ada perubahan besar, pada tahun 2030 dunia diprediksi akan membuang lebih dari 134 juta ton tekstil setiap tahun, sebagian besar berasal dari bahan sintetis seperti polyester, nylon, dan acrylic. Masalahnya, bahan-bahan tersebut tidak mudah terurai dan dapat bertahan ratusan tahun di TPA.
Kondisi inilah yang mendorong pergeseran besar menuju material yang lebih ramah lingkungan. Konsumen semakin sadar pentingnya keberlanjutan, dan brand fashion pun berlomba memperbaiki proses produksi mereka. Di tengah dinamika ini, kain viscose menjadi salah satu material yang paling banyak diperbincangkan, bahkan sering disebut sebagai salah satu masa depan industri fashion.
Viscose, atau sering disebut rayon, adalah bahan semi-sintetis yang berasal dari selulosa kayu. Walaupun melalui proses kimia, bahan dasarnya tetap bersumber dari alam. Karakter inilah yang membuat viscose mampu menawarkan kualitas kain yang lembut, ringan, dan memiliki tampilan mewah seperti sutra, namun dengan harga yang jauh lebih terjangkau.
Awal mula viscose cukup panjang. Material ini pertama kali diperkenalkan oleh Hilaire de Chardonnet, yang ingin menciptakan alternatif sutra yang lebih murah. Kemudian peneliti asal Inggris, Charles Frederick Cross, Clayton Beadle, dan Edward John Bevan, mengembangkan proses produksinya hingga akhirnya mematenkan viscose pada tahun 1905. Sejak saat itu, viscose mulai diproduksi massal dan menjadi bahan yang banyak dicari, terutama karena hasilnya yang menyerupai sutra dengan kilau halus dan jatuhan kain yang elegan.
Salah satu alasan utama viscose dianggap sebagai material masa depan adalah kontribusinya terhadap keberlanjutan. Ketika dunia semakin sadar terhadap dampak limbah tekstil, industri fashion membutuhkan material yang tidak hanya nyaman dipakai, tetapi juga lebih ramah terhadap lingkungan.
Berbeda dari bahan sintetis yang berbasis plastik, viscose memiliki keunggulan besar: bersifat biodegradable. Dalam kondisi yang tepat, viscose dapat terurai secara alami di tanah maupun air. Ini membantu mengurangi beban limbah tekstil yang semakin menumpuk di TPA.
Beberapa produsen viscose besar, seperti Asian Pacific Rayon (APR), bahkan memastikan bahwa bahan bakunya berasal dari perkebunan kayu yang dikelola secara berkelanjutan dan telah tersertifikasi oleh lembaga internasional seperti PEFC. Artinya, pohon yang digunakan tidak diambil dari hutan alam, melainkan dari wilayah yang memang ditanami secara khusus untuk produksi selulosa.
Selain itu, produsen viscose modern berkomitmen mengurangi jejak karbon dan meningkatkan efisiensi energi dalam proses produksi. Ini menjadikan viscose sebagai bahan yang tidak hanya nyaman, tetapi juga etis untuk dipilih.
Meski viscose lebih berkelanjutan daripada bahan sintetis, industri fashion tetap menghadapi tantangan besar: bagaimana mengurangi limbah pakaian secara keseluruhan. Salah satu langkah penting adalah recycling atau mendaur ulang tekstil bekas menjadi bahan baru.
Proses daur ulang tekstil masih sulit dilakukan, terutama jika bahannya merupakan campuran banyak material. Zipper harus dipisahkan, kain harus diproses ulang, dan pewarna harus dihilangkan. Meski teknologi untuk recycling kain terus berkembang, proses ini masih berada dalam tahap awal dan memerlukan investasi besar.
Beberapa produsen viscose berkomitmen memasukkan 20% konten tekstil daur ulang ke dalam produksi viscose staple fibre (VSF) mereka pada tahun 2030. Langkah ini merupakan bagian dari strategi circular fashion yang diharapkan dapat mengurangi jumlah limbah tekstil dan membantu membangun ekosistem industri yang lebih bertanggung jawab.
Popularitas viscose bukan hanya karena keberlanjutan, tetapi juga karena kualitasnya yang unggul sebagai bahan pakaian sehari-hari. Berikut beberapa kelebihan viscose yang membuatnya semakin digemari:
Viscose memiliki permukaan yang halus dan jatuhan kain yang cantik, sehingga sering menjadi pilihan untuk dress, blouse, dan pakaian yang membutuhkan tampilan mewah. Kain ini mampu memberikan kesan elegan tanpa membuat harga produk melonjak tinggi.
Salah satu karakteristik terbaik viscose adalah kemampuannya menyerap kelembapan. Ini membuatnya sangat nyaman dipakai di negara beriklim tropis seperti Indonesia. Kain ini terasa sejuk dan tidak membuat gerah meski digunakan dalam waktu lama.
Viscose mampu menyerap pewarna dengan baik, menghasilkan warna yang cerah dan tidak mudah pudar. Inilah mengapa banyak brand fashion memilih viscose untuk koleksi dengan motif atau warna intens.
Temukan artikel fashion terlengkap hanya di Laruna, stay stylish, stay updated!




