
Tidak semua tahun dalam dunia fashion terasa penting. Ada tahun-tahun yang lewat begitu saja, lalu ada tahun seperti 2025, tahun ketika fashion terasa absurd, penuh kejutan, emosional, politis, dan sama sekali tidak membosankan. Tahun ketika kita bertanya-tanya: mengapa semua orang tiba-tiba memakai butter yellow?, kenapa Timothée Chalamet datang ke red carpet naik sepeda Lime?, dan apa sebenarnya Labubu sampai boneka kecil itu mendominasi tas-tas mewah?
Sepanjang 2025, fashion tidak bergerak dalam satu arah tunggal. Ia datang bertubi-tubi dalam bentuk momen viral, aneh, menyenangkan, kadang membingungkan, tapi selalu relevan dengan zeitgeist. Tren lahir, berubah, dan menghilang dengan kecepatan ekstrem. Mikro-estetika bahkan mati sebelum sempat dipahami sepenuhnya. Inilah kilas balik momen fashion viral yang benar-benar mendefinisikan 2025.
Jika harus memilih satu simbol paling absurd namun ikonik di 2025, jawabannya adalah Labubu. Boneka koleksi karya seniman Kasing Lung ini, dengan taring, telinga runcing, dan ekspresi setengah nakal, secara tak terduga menjadi aksesori fashion paling diburu.
Labubu menggantung di tas-tas mewah milik Dua Lipa, Rihanna, Hailey Bieber, bahkan muncul dalam keseharian orang-orang biasa. Dari objek koleksi niche, Labubu berubah menjadi bentuk perlawanan halus terhadap fashion yang terlalu serius dan elitis.
Ketika versi orisinalnya sulit didapat dan mengharuskan antre berjam-jam di Pop Mart, versi palsu “Lafufu” pun bermunculan di toko pinggir jalan. Ironis, konyol, dan justru itulah daya tariknya. Labubu menandai kembalinya fun, childishness, dan absurditas dalam fashion arus utama.

Di satu titik pada 2025, fashion seolah sepakat untuk kembali ke 2012, bukan versi romantisnya, tetapi busananya yang nyata. Wedge sneakers, capri pants, hingga bandage dress Hervé Léger kembali menghiasi red carpet dan panggung festival.
Sabrina Carpenter mempopulerkan kembali peep-toe heels, Charli XCX tampil di Glastonbury dengan scarf tengkorak Alexander McQueen, dan yang paling mengejutkan: Topshop menggelar comeback show di Trafalgar Square.
Ini bukan sekadar nostalgia, tetapi pengakuan bahwa generasi digital merindukan masa ketika fashion terasa lebih liar dan personal. Tumblr boleh mati, tapi jiwanya hidup kembali di 2025.
Bukan lemon. Bukan krem. Butter yellow, lembut, hangat, dan anehnya menenangkan, menjadi warna paling dominan sepanjang tahun. Ia muncul diam-diam di runway Spring/Summer 2025 dan menolak pergi.
Dari Tod’s dengan jaket waxy, Jil Sander dengan potongan sleek, hingga Jacquemus dengan Breton stripes kuning pucat, warna ini menyusup ke tailoring, gaun, sepatu, dan aksesori. Bahkan mereka yang mengaku “tidak suka warna” akhirnya memakainya.
Butter yellow adalah warna kompromi: aman tapi tidak membosankan, lembut tapi tetap statement.

Jika 2025 punya fashion main character, itu adalah Charli XCX. Pernikahannya di Hackney Town Hall dengan mini dress Vivienne Westwood Nova Cora terasa lebih seperti deklarasi gaya daripada momen bridal konvensional.
Off-shoulder, asimetris, dipadukan dengan kacamata hitam dan slingback Jimmy Choo, anti-bridal tapi tetap romantis. Dari festival outfit super mini hingga busana panggung penuh sikap, Charli membuktikan bahwa “effortless” tetap membutuhkan intensi.
Outerwear 2025 ditunjukkan secara fenomenal. Jaket militer penuh embellishment, epaulette, dan siluet teatrikal mendominasi runway dan street style. Dari Alexander McQueen, Ann Demeulemeester, hingga Dior Homme, estetika militer hadir dalam versi couture.
Dipakai oleh Dua Lipa, Jenna Ortega, hingga Sofia Richie Grainge, tren ini mengingatkan pada era pop militaristik ala Fight For This Love, tetapi dengan sentuhan fashion tinggi.

Di tengah hiruk-pikuk visual, momen paling kuat justru datang dari T-shirt putih. Karya Conner Ives dengan slogan Protect the Dolls, dikenakan Pedro Pascal, menjadi pernyataan politik paling berdampak tahun ini.
Merespons kemunduran hak trans di AS, kaos ini sederhana, lugas, dan tidak bisa diabaikan. Fashion kembali menunjukkan bahwa pesan paling kuat tidak selalu paling heboh.

Siapa sangka pakaian paling “panas” tahun ini adalah cardigan abu-abu chunky? Dikenakan Cynthia Erivo sebagai Elphaba dalam Wicked: For Good, cardigan ini mendobrak logika sensualitas fashion.
Ia terlihat seperti cardigan rumah dan justru di sanalah daya tariknya. 2025 membuktikan bahwa sensualitas tidak selalu tentang kulit terbuka, tapi tentang konteks dan kehadiran.
Lily Allen mengubah patah hati menjadi pernyataan gaya. Saat debut catwalk di 16Arlington x Antony Price, ia tampil dengan gaun velvet strapless berbelahan tinggi dan lining hijau neon.
Busana ini menjadi simbol reclaiming narrative, tentang perempuan, kontrol, dan harga diri. Tidak teriak, tapi sangat terasa.

Timothée Chalamet datang ke premiere A Complete Unknown dengan , mengenakan setelan Martine Rose. Aksi ini menjadi homage cerdas pada Bob Dylan dan simbol keberlanjutan yang tidak menggurui.
Temukan artikel fashion terlengkap hanya di Laruna, stay stylish, stay updated!




