Monday, 01 January 2022

Mengulik Bahaya Pakaian Berbahan Polyester

Pakaian yang abadi di lemari memang praktis, tapi pakaian yang abadi di lautan adalah bencana. Itulah polyester
February 13, 2026  | Melisa Nirmaladewi
bahaya pakaian polyester
 

Polyester telah menjadi salah satu material paling dominan dalam industri fashion modern. Dari kaus, rok, jaket olahraga, hingga baju kerja, hampir semua orang pasti memiliki setidaknya satu pakaian berbahan polyester di lemarinya. Popularitasnya tidak lepas dari harga yang murah, sifatnya yang tahan lama, serta kemampuannya mempertahankan bentuk. Namun, di balik kemudahan tersebut, semakin banyak penelitian dan laporan yang mengungkapkan sisi gelap dari material ini. Polyester ternyata memiliki dampak besar, baik terhadap kesehatan manusia maupun lingkungan.

Asal Usul Polyester dan Perkembangannya dalam Industri Mode

Polyester ditemukan pada 1941 oleh dua ahli kimia Inggris, John Rex Whinfield dan James Tennant Dickson. Baru pada tahun 1970-an material ini mencapai puncak popularitasnya karena dianggap sebagai solusi modern bagi pakaian yang mudah dirawat, tidak mudah kusut, dan lebih murah dibandingkan kain alami seperti katun atau wol. Sejak saat itu, polyester berkembang menjadi bahan utama dalam fast fashion. Garment dengan harga murah dan tren cepat sangat bergantung pada bahan ini karena biaya produksinya sangat rendah.

Produksi polyester yang terus meningkat dari tahun ke tahun akhirnya menciptakan hubungan erat antara fast fashion dan konsumsi berlebihan. Kedua aspek ini mendorong meningkatnya permintaan polyester, sekaligus memperburuk dampak lingkungan dari proses produksinya.

Proses Produksi Polyester: Dari Minyak Mentah Menjadi Kain

Sedikit orang menyadari bahwa polyester bukanlah bahan yang “ramah” atau “alami.” Polyester merupakan bentuk plastik berbasis minyak bumi, atau petroleum. Prosesnya dimulai dari ekstraksi minyak mentah yang kemudian diolah menjadi ethylene glycol dan terephthalic acid. Kedua bahan ini dipanaskan pada suhu tinggi hingga membentuk polimer polyethylene terephthalate (PET).

Baca juga:   Jenis Bahan Baju yang Anti Kusut Tanpa Setrika

Polimer ini kemudian dilelehkan dan diekstrusi melalui mesin bernama spinneret untuk menghasilkan serat panjang yang nantinya akan dipintal menjadi benang. Tahap demi tahap dalam proses ini membutuhkan energi dalam jumlah besar dan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang signifikan. Dengan kata lain, pakaian polyester yang kita pakai sehari-hari berasal dari proses industri berat yang sangat bergantung pada bahan bakar fosil.

Dampak Lingkungan dari Polyester yang Sering Tidak Disadari

Dibalik harganya yang murah, polyester menyimpan sejumlah dampak lingkungan yang cukup mengkhawatirkan. Salah satunya adalah tingginya emisi karbon. Industri fashion sendiri diperkirakan menghasilkan lebih dari 700 juta ton CO₂ setiap tahun, dan sebagian besar berasal dari produksi bahan sintetis seperti polyester. Negara produsen utama seperti Tiongkok mengandalkan pembakaran batu bara untuk menjalankan pabrik tekstil, sehingga menambah tingkat polusi udara dan memperburuk perubahan iklim.

Selain itu, polyester tidak dapat terurai secara alami. Sifatnya yang tahan lama mungkin terlihat sebagai keunggulan, tetapi ketika limbah pakaian dibuang, material ini dapat bertahan ratusan tahun di tanah atau laut. Limbah polyester tidak hanya membebani tempat pembuangan sampah, tetapi juga mengancam ekosistem karena dapat hancur menjadi partikel mikroplastik yang mencemari tanah dan perairan.

Kaitan Polyester dengan Fast Fashion dan Konsumerisme Berlebihan

Polyester adalah fondasi utama fast fashion. Produksinya murah, cepat, dan dapat dibuat dalam berbagai bentuk serta warna. Hal ini membuat brand fast fashion mampu merilis ribuan model baru setiap minggu dengan harga sangat rendah. Kombinasi belanja online dan peningkatan kelas menengah global juga memperparah konsumsi pakaian polyester.

Masalahnya, pakaian murah ini sering kali hanya dipakai beberapa kali sebelum dibuang. Sementara bahan alaminya mungkin dapat terurai, polyester tetap berada di lingkungan selama ratusan tahun. Akumulasi limbah pakaian menjadi salah satu isu terbesar dalam industri tekstil global.

Baca juga:   Eksplorasi Warna dalam Kebaya: Filosofi dan Estetika

Dengan semua fakta ini, penting bagi kita untuk mulai lebih kritis terhadap pilihan pakaian. Polyester mungkin menawarkan kenyamanan dan harga murah, namun biaya tersembunyi yang dibayarkan oleh lingkungan dan kesehatan manusia sangatlah besar. Mengurangi konsumsi fast fashion, memilih bahan alami, dan membeli pakaian berkualitas yang tahan lama bisa menjadi langkah awal menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan.

Temukan artikel fashion terlengkap hanya di Laruna, stay stylish, stay updated!

Reference: 
https://www.thesustainablefashionforum.com/pages/quick-question-what-is-polyester-and-is-it-really-that-bad-for-the-environment
https://www.earthday.org/the-devil-wears-polyester/
Copyright © 2023 - Style by Laruna - All rights reserved
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram