Monday, 01 January 2022

Metawashing di Industri Mode

Metaverse, ranah digital, dan teknologi blockchain telah menarik perhatian banyak orang karena praktik mode di ranah digital dapat menyelesaikan beberapa praktik tidak berkelanjutan perusahaan dan konsumen.
January 15, 2023  | Levina Chrestella Theodora
 

Pernah mendengar mengenai metawashing? Kata ini jarang didengar dan digunakan. Jika kamu mengetik “metawashing” di mesin pencari Google, hanya ada beberapa artikel dengan kurang dari 5 halaman yang akan muncul. Belum aja juga penelitian khusus yang meneliti fenomena metawashing ini.

Apa itu Metawashing?

Definisi dan konsep metawashing tidak jauh berbeda dengan greenwashing. Mengutip Global Fashion Agenda, istilah metawashing telah digunakan untuk menggambarkan suatu praktik pada produk dan layanan metaverse. Metawashing merujuk pada pemasaran produk terkait metaverse sebagai berkelanjutan sambil melanjutkan operasi bisnis seperti biasa, yang tidak berkelanjutan itu di tempat lain. 

“Jika metaverse didekati semata-mata sebagai peluang pemasaran dan jalan penjualan tambahan, dengan sedikit atau tanpa fokus pada kelebihan produksi dan praktik tidak etis di dunia fisik, maka elemen keberlanjutan tidak memiliki arti penting,” tulis Global Fashion Agenda. 

Gagal mengatasi masalah yang tersebar luas dalam produksi pakaian fisik berarti bahwa pemasaran metaverse hanyalah bentuk lain dari greenwashing. Metaverse walau sudah marak, masih berada dalam tahap awal dengan banyak ruang untuk perbaikan. 

Jika ini lalai, metaverse hanya akan menjadi tempat lain untuk konsumsi berlebihan dan praktik tidak etis yang menguntungkan perusahaan besar. 

Metawashing di Industri Mode

Kita tidak mau memperluas tempat bagi perusahaan-perusahaan untuk melanjutkan kebiasaan tidak berkelanjutan mereka.

metawashing
Berbagai mata uang kripto energi-intensif yang berdampak buruk kepada lingkungan. (Sumber: Unsplash/André François McKenzie)

Karena dilakukan secara digital, persiapan dan aktivitas di dunia fisik secara drastis dapat berkurang. Berbagai contoh disampaikan oleh Global Fashion Agenda seperti:

  • Pengurangan jejak karbon yang dikeluarkan oleh industri fashion saat mempersiapkan pekan mode. Menurut satu laporan oleh Ordre, pekan mode yang dilakukan secara fisik menyumbang 241.000 ton emisi CO2 setiap tahunnya. Tidak hanya streaming online, metaverse menghadirkan peluang imersif dengan akses global.
  • Jika sampel baju dibuat secara digital, pengurangan jejak karbon yang dikeluarkan dari produksi dan proses pengembangan baju disaat pembuatan sampel akan berkurang.
  • Memberikan kesempatan bagi konsumen untuk mencoba baju secara digital– mengurangi pengunjung yang harus menggunakan transportasi untuk pergi ke toko baju dan mencoba baju, kemasan baju, dan berlebihan stok ukuran baju yang kurang diminati. 
Baca juga:   Jangan Dibuang! Ini 5 Tips Upcycling Baju Lama Jadi Barang Baru Tanpa Jahit

Tapi apakah itu benar? Pertanyaan ini kompleks untuk dijawab, karena jawabannya bisa iya dan tidak. Lebih banyak diskusi diperlukan, terutama, minat konsumen akan digital fashion juga meningkat. 

Mengutip Reuters, permintaan digital untuk brand fashion dan mewah diperkirakan akan tumbuh dari level rendah saat ini (2021) dan menghasilkan penjualan ekstra untuk industri yang dapat mencapai $50 miliar pada tahun 2030, menurut Morgan Stanley.

Digitalisasi bukanlah jawaban satu-satunya. Kamu tahu? Teknologi blockchain, mata uang kripto, dan metaverse memakan banyak energi. Mengutip Zhang, et al. (2022), “metaverse akan membutuhkan daya komputasi 1000 kali lipat lebih banyak dan mendorong penggunaan data sebanyak 20 kali lipat dalam 10 tahun ke depan.” 

Studi lain oleh Universitas Massachusetts mengungkapkan bahwa proses pelatihan model AI (Artificial Intelligence) besar melalui pembelajaran mendalam (deep learning) melepaskan lebih dari 626.000 pon karbon dioksida—hampir lima kali lipat emisi rata-rata mobil Amerika selama masa pakainya. 

Belum lagi dengan pertumbuhannya dan perkembangan teknologi, akan ada banyak sampah elektronik yang dihasilkan dengan dunia yang serba digital. Sampah-sampah digital ini mencemarkan tanah dan air kita. Penting bahwa para brand transparan dengan jejak karbon virtual mereka untuk mencegah metawashing.

Blockchain Ramah Lingkungan

Karena urgensi krisis iklim, perkembangan mata uang kripto yang berkelanjutan atau hijau merupakan perhatian penting di era saat ini. Pembuat kebijakan harus memberi insentif dan memudahkan transisi mekanisme penambangan dirty cryptocurrency dari Proof-of-Work (PoW) konsensus untuk non-PoW atau konsensus hemat energi (Ren & Lucey, 2022).

metawashing
(Sumber: Unsplash/Kanchanara)

Mengutip Investopedia, PoW adalah mekanisme konsensus terdesentralisasi yang mengharuskan anggota jaringan untuk berusaha memecahkan teka-teki matematika yang sewenang-wenang untuk mencegah siapa pun memainkan sistem. 

Baca juga:   Simak 6 Cara Mudah Bikin Wardrobe Kamu Lebih Ramah Lingkungan!

PoW digunakan secara luas dalam penambangan cryptocurrency untuk memvalidasi transaksi dan menambang token baru. Juga, PoW kerap menjadi penting jika membahas eco-friendly cryptocurrency

Bagi yang merasa pasrah, jangan khawatir. Mata uang kripto ramah lingkungan sudah hadir dan berbagai aksi telah dilakukan untuk mengurangi dampak negatif blockchain terhadap lingkungan kita. Beberapa mata uang kripto yang dikenal ramah lingkungan seperti Cardano, Ripple, Stellar, Tezos, Chia, dan banyak lagi.

Selain itu, lebih dari 250 perusahaan dan individu yang mencakup crypto dan keuangan, teknologi, LSM, dan sektor energi dan iklim telah bergabung dengan Crypto Climate Accord (CCA). 

Mereka yang bergabung adalah peserta pasar kripto yang membuat komitmen publik untuk mencapai emisi net-zero dari konsumsi listrik yang terkait dengan semua operasi mereka terkait kripto pada tahun 2030. Mereka juga harus melaporkan kemajuan menuju target emisi net-zero ini menggunakan praktik industri terbaik.

Dengan tagar #MakeCryptoGreen (#BuatKriptoHijau) CCA menjelaskan bahwa aksi mereka terinspirasi oleh Perjanjian Iklim Paris. Mereka dipimpin oleh sektor swasta, bekerja sama dengan industri kripto dan blockchain untuk mempercepat pengembangan solusi digital #ProofOfGreen dan menetapkan standar baru untuk diikuti oleh industri lain.

Konklusi

Walau terkesan sudah lama, penerapan dan tren blockchain masih cukup baru. Banyak brand mode yang mengikuti tren ini mungkin tanpa rencana yang matang. Jing Daily memberikan pertanyaan yang penting. Berapa banyak kerusakan lingkungan yang disebabkan? Dan bagaimana merek berencana mengimbangi jejak karbon virtual mereka tanpa strategi yang jelas? 

Karena metaverse masih dalam tahap awal, kita semua berkesempatan untuk membentuknya dengan baik, yaitu ramah lingkungan. Jika tidak, penggunaan metaverse untuk menjadi lebih ramah lingkungan hanya akan menjadi greenwashing 2.0. Jangan sampai blockchain menjadi salah satu saluran lain bagi konsumsi berlebihan dan praktik tidak etis yang hanya akan menguntungkan perusahaan besar.
Tidak hanya untuk brand. Penting bagi para konsumen juga untuk sadar bahwa digtal fashion tidak 100% ramah lingkungan. Perlu lebih banyak riset dan rencana bagi industri mode untuk menerapkan digtal fashion yang ramah lingkungan untuk menghindari metawashing.


With Laruna, you can combine your love for fashion and the planet by choosing sustainable options that fit your style and contribute to positive changes. Want to join Laruna as a content contributor? We'd love to spend time with you!

Baca juga:   9 Upaya Program "Clothing Libraries" untuk Sewa Pakaian Murah
Reference: 
Global Fashion Agenda. Demystifying the Metaverse and Metawashing. https://globalfashionagenda.org/news-article/demystifying-the-metaverse-and-metawashing/ (Diakses pada: 09 Februari 2023)

British Vogue. Are Digital Fashion Weeks Really More Sustainable?. https://www.vogue.co.uk/fashion/article/digital-fashion-week-sustainablity (Diakses pada: 09 Februari 2023)

Reuters. Metaverse: a $50 billion revenue opportunity for luxury - MS. https://www.reuters.com/article/global-luxury-metaverse-idCAKBN2I116A (Diakses pada: 09 Februari 2023)

Ordre. Zero To Market— Measuring The Carbon Emissions of Fashion Week. https://www.ordre.com/en/news/sustainable-fashion-week-cfda-eco-carbon-travel-1409 (Diakses pada: 09 Februari 2023)

Strubell et al., Energy and Policy Considerations for Deep Learning in NLP. https://aclanthology.org/P19-1355.pdf (Diakses pada: 09 Februari 2023)

Ren & Lucy. A clean, green haven?—Examining the relationship between clean energy, clean and dirty cryptocurrencies. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0140988322001281#:~:text=Statistical%20evidence%20shows%20that%20clean,clean%20cryptocurrencies%20during%20increased%20uncertainty (Diakses pada: 09 Februari 2023)

Investopedia. What Is Proof of Work (PoW) in Blockchain?. https://www.investopedia.com/terms/p/proof-work.asp#:~:text=Proof%20of%20work%20(PoW)%20is,transactions%20and%20mining%20new%20tokens (Diakses pada: 09 Februari 2023)

Jing Daily. Metawashing: The Latest Buzzword Taking Over Web3. https://jingdaily.com/metawashing-metaverse-greenwashing-web3-sustainability/ (Diakses pada: 09 Februari 2023)
Copyright © 2023 - Style by Laruna - All rights reserved
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram