Monday, 01 January 2022

Sejarah Ulos, Bukan Sekadar Kain Tenun Biasa

Sesuai dengan hukum alam ulos juga telah melalui proses sejarah yang panjang sebelum akhirnya menjadi salah satu simbol adat suku Batak seperti sekarang.
March 1, 2023  | Anggun Tifani
sejarah ulos
 

Indonesia dengan keanekaragaman budayanya memiliki sejumlah fesyen khas nusantara berupa kain-kain khas istiadat dari suatu daerah. Nah pada pembahasan kali ini, kain  yang sarat akan makna sejarah yakni Kain Ulos Khas Batak Medan akan dibahas dan dikulik sejarahnya dalam ulasan berikut.

Sejarah Kain Ulos

Dikutip dari laman resmi warisanbudaya.kemdikbud.go.id, suku Batak sudah mengenal ulos sejak abad ke-14, bersamaan dengan masuknya alat tenun tangan dari India. Mulanya, kain ulos berfungsi sebagai penghangat badan bagi nenek moyang suku Batak yang hidup di kawasan pegunungan.

Diketahui, dahulu nenek moyang suku Batak adalah manusia-manusia gunung yang menjalani kehidupannya dengan berladang di kawasan pegunungan. Mereka mendiami dataran tinggi  yang itu berarti mereka harus siap berperang melawan dinginnya cuaca yang menusuk tulang. Hal itulah yang menjadi asal mula tonggak sejarah ulos.

Awalnya nenek moyang mereka mengandalkan sinar matahari dan api sebagai penghangat badan untuk melawan rasa dingin. Bagi masyarakat Batak, panas matahari dianggap belum cukup untuk mengikis udara dingin.

Masalahnya saat mereka menyadari bahwa matahari tidak bisa diperintah sesuai dengan keinginan manusia. Atas hal tersebut, ulos menjadi salah satu sumber panas bagi suku Batak, selain matahari dan api yang fungsi sebetulnya dari kain ini ialah untuk menghangat badan dikala cuaca sedang dingin. Dalam hal ini, ulos tidak serta merta segera menjadi sakral di masa-masa awal kemunculannya.

Jenis ulos dan makna filosofisnya

Berbeda dengan ulos yang saat ini dianggap sakral, ternyata dulu ulos malah dijadikan selimut atau alas tidur oleh nenek moyang suku Batak. Namun begitu, ulos yang mereka gunakan kualitasnya jauh lebih tinggi, lebih lembut, lebih tebal motifnya pun lebih artistik.

Baca juga:   Jangan Dibuang! Ini 5 Tips Upcycling Baju Lama Jadi Barang Baru Tanpa Jahit

Ulos Ragi Hotang Bermakna Ikatan Kasih Sayang

Suku Batak memiliki pandangan bahwa kain ulos menjadi simbol tiga unsur kehidupan manusia yakni darah, napas dan panas. Darah dan napas merupakan pemberian Tuhan, tapi tidak dengan unsur panas.

Sumber: ulosindonesia.com

Namun begitu, lama kelamaan ulos pun punya makna simbolik lainnya. Ulos dianggap sebagai kain simbol kasih sayang antar anak dengan orang tua dan antara satu orang dengan orang lainnya.

Pemaknaan tersebut diketahui sejalan dengan filsafat Batak, yakni “Ijuk pengihot ni hodong. Ulos penghit ni halong” yang berarti ijuk pengikat pelepah pada batangnya dan ulos pengikat kasih sayang di antara sesama.

Kain ulos juga sering dihadiahkan untuk sepasang pengantin baru. Dalam hal ini, masyarakat Batak meyakini kain ulos menjadi simbol ikatan kasih sayang yang diharapkan bisa seperti rotan atau yang disebut hotang oleh dalam bahasa Batak. Rotan dikenal sebagai bahan pengikat yang sangat kuat, sehingga filosofi itu menjadi doa bagi pengantin baru agar senantiasa tetap terikat kuat dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Ulos Mangiring Bermakna Kesuburan

Umumnya ulos mangiring diberikan oleh orang tua (nenek) kepada cucu pertamanya dengan doa dan harapan agar kelak akan lahir anak berikutnya dalam keturunan keluarga tersebut.

Sumber: ulosindonesia.com

Ulos ini bisa digunakan sebagai kain gendongan untuk nagi. Selain itu, ulos mangiring juga kerap dipakai sebagai selendang atau yang juga dikenal dengan nama parompa dan tali-tali dalam bahasa Batak.

Ulos Sadum Bermakna Suka Cita

Khas pesona ulos sadum bisa terlihat dari tenunan dominasi aksen warna merah, motif bunga yang meriah, serta bingkai warna gelap di kedua sisinya.

sejarah ulos
Sumber: instagram.com/dameulos

Ulos sadum ini dimaknai sebagai motivasi dalam suatu keluarga agar selalu bersuka cita, optimis dan bersemangat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Ulos sadum juga cocok dipakai untuk kenang-kenangan kepada pejabat atau tamu istimewa.

Baca juga:   Peran Budaya dalam Menentukan Tren Fashion di Indonesia

Ulos Bintang Maratur Bermakna Rasa Syukur

Ulos ini menjadi simbol perantara ucapan suka cita, bersyukur atau berita gembira yang diberikan kepada orang-orang tertentu yang telah mendapat berkat atau rezeki.

sejarah ulos
Sumber: gobatak.com

Ulos ini diberikan ke seseorang dengan harapan agar semua orang disekitarnya juga turut merasakan kebahagian.

Ulos Ragidup Bermakna Kehidupan

Proses pembuatan ulos ragidup dikatakan senagai proses yang paling sulit dan panjang dibanding jenis ulos lainnya, hal inilah yang membuat harga ulos ragidup cukup mahal. Terdapar tiga bagian yang harus ditenun secara bertahap selama pembuatannya, yakni 2 bagian sisi dan sebuah bagian tengah yang berisi tiga bagian dengan detail yang kompleks dan rumit.

sejarah ulos
Sumber: instagram.com/dameulos

Setelah selesai ditentun dan dipandangi secara cermat, keseluruhan motifnya tampak nyata dan ‘hidup’. Atas hal tersebut, ulos ragidup (ragi hidup)  kerap dijadikan simbol dari kehidupan dan kebahagiaan dalam keturunan dengan umur yang panjang.

Nah itu dia ulasan tentang sejarah kain ulos dan informasi lebih lanjut tentang warisan budaya asli suku Batak tersebut. Semoga bermanfaat dalam menambah wawasan fesyen khas nusantara.


With Laruna, you can combine your love for fashion and the planet by choosing sustainable options that fit your style and contribute to positive changes. Want to join Laruna as a content contributor? We'd love to spend time with you!

Reference: 
https://kwriu.kemdikbud.go.id/berita/ulos-bukan-sekadar-kain-tenun/ (Diakses pada: 21 Januari 2022)

https://www.indonesia.travel/id/id/ide-liburan/tak-hanya-memesona-5-kain-ulos-khas-danau-toba-ini-juga-sarat-makna (Diakses pada: 21 januari 2022)
Copyright © 2023 - Style by Laruna - All rights reserved
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram