Monday, 01 January 2022

Keajaiban Kostum Wicked: For Good, Ketika Fantasi, Mode, dan Karakter Menyatu

Dalam Wicked: For Good, kostum bukan sekadar pakaian, melainkan bahasa visual yang mengungkap perjalanan batin setiap karakter
December 31, 2025  | Melisa Nirmaladewi
kostum wicked
 

Di balik dunia Oz yang megah dan penuh intrik, Wicked: For Good hadir bukan hanya sebagai lanjutan cerita persahabatan Elphaba dan Glinda, tetapi juga sebagai panggung megah bagi desain kostum yang memanjakan mata. Paul Tazewell, perancang busana pemenang Oscar untuk film Wicked pertama, kembali menunjukkan keajaiban visi artistiknya lewat rangkaian kostum yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat makna.

Sebagai desainer yang sudah mengumpulkan penghargaan Emmy, BAFTA, hingga Tony Awards, Tazewell memahami bahwa pakaian dalam sebuah cerita fantasi wajib punya peran lebih dari sekadar estetika. Di dunia Wicked, kostum menjadi cermin perjalanan batin karakter, penguat narasi, dan penanda transformasi. Bagi Tazewell, tugas utamanya adalah menciptakan “realitas emosional” bagi setiap tokoh, meski mereka hidup di dunia penuh sihir.

Kostum Ikonik Elphaba dalam Siluet Superhero

kostum wicked
Giles Keyte/Universal Pictures

Di film pertama, kita mengenal Elphaba sebagai sosok yang baru menemukan jati diri. Namun Wicked: For Good membawa kita pada fase baru, fase di mana ia menjadi buronan negara, sekaligus perempuan yang semakin mengenal kekuatan dirinya sendiri. Tazewell merancang kostumnya agar tampak seperti evolusi alami dari akhir film pertama: gaun hitam yang dulu ia kenakan di Emerald City kini berubah menjadi tunik lusuh, dengan tekstur kusam yang seolah terkoyak oleh perjalanan panjang.

Elphaba kini memadukan tuniknya dengan celana panjang yang memberi kesan lebih aktif dan penuh kendali. Ia juga memakai mantel panjang serta cape yang pernah diberikan Glinda untuk melindunginya, sebuah detail simbolis tentang persahabatan yang tidak pernah benar-benar padam. Seluruh elemen ini menciptakan siluet bak superhero, sebuah penghormatan halus terhadap ikon klasik Wicked Witch of the West tahun 1939.

Baca juga:   Tren 'Dress over Jeans' adalah Bentuk Feminisme?

Tak ketinggalan, topi runcingnya kini tampil lebih dramatis, sementara sepatu boots hitam yang kokoh mempertegas bahwa Elphaba bukan sekadar penyihir, ia adalah perempuan yang berjuang untuk kebenaran, meski harus berjalan sendirian.

Glinda, Elegansi Politis ala Audrey Hepburn & Marie Antoinette

Sementara Elphaba melarikan diri dari dunia, Glinda justru semakin masuk ke jantung kekuasaan. Penampilannya diresapi kemewahan khas era Dior, dikombinasikan dengan sentuhan Marie Antoinette yang penuh drama. Di Emerald City, Glinda bukan hanya simbol kebaikan; ia juga wajah propaganda. Ia adalah “ingénue” yang difashionkan menjadi ikon kesempurnaan, tampil anggun namun terkekang dalam citra yang dibangun oleh Wizard dan Madame Morrible.

Setiap langkah Glinda dipenuhi kecermatan. Gaun biru-lilac pertamanya, yang ia kenakan ketika turun dari bubble, merupakan anggukan pada kostum klasik Glinda dalam The Wizard of Oz. Tetapi Tazewell merapikan elemen-elemen itu untuk memberikan kesan modern dan memancarkan kemurnian yang lebih halus. Lapisan tulle, organza, dan detail embroideri menjadi simbol keanggunan sekaligus tekanan yang harus ia pikul sebagai sosok “kebaikan” versi Emerald City.

Kostum Hutan Elphaba

Setelah melarikan diri, Elphaba bersembunyi di sebuah rumah pohon yang menjadi perpanjangan jiwanya. Kostumnya di bagian ini terasa jauh lebih intim, lembut, dan organik. Tazewell membayangkan Elphaba yang belajar menenun kainnya sendiri, memintal benang dari bahan yang ia temukan di hutan, dan menciptakan cardigans serta jubah dengan tekstur yang mengingatkan pada kulit kayu dan lilitan akar. Hasilnya adalah sebuah tampilan yang terasa sangat “earthy”, menghubungkannya sepenuhnya dengan dunia alami.

Di sinilah penonton diperlihatkan sisi paling manusiawi Elphaba. Ketika ia menerima Fiyero di ruang pribadinya, kostumnya yang sederhana memperlihatkan kerentanan dan kedekatan emosional yang jarang ia tunjukkan di dunia luar.

Baca juga:   Trend Athleisure 2025: Outfit Santai yang Tetap Fashionable

Gaun Pernikahan Glinda

kostum wicked
Giles Keyte/Universal Pictures

Salah satu highlight visual film ini adalah gaun pernikahan Glinda, sebuah mahakarya minimalis yang lembut namun berkesan. Pada rancangan awal, Tazewell sempat merancang gaun bertabur tulle dan ornamen yang dramatis. Namun pada akhirnya, ia memilih versi yang lebih bersih, sederhana, dan mengedepankan kerentanan Glinda.

Gaun putih penuh rok dengan potongan bodice asimetris menjadi lambang transisi karakter Glinda. Sementara taburan kupu-kupu kristal yang menghias bagian atas gaun dan 25 meter veil melambangkan metamorfosis, perubahan seorang perempuan yang belajar bahwa kebaikan tidak selalu seindah yang ia bayangkan.

Final Look Elphaba dalam Gaun Gossamer

Di akhir film, Elphaba tampil dalam jubah tipis berkerudung yang bergerak seperti asap. Teksturnya lembut, ringan, dan nyaris tidak nyata, kontras total dari siluet gelap dan tegas yang selama ini melekat padanya. Warna dan teksturnya terinspirasi dari palet Fiyero, sebagai simbol persatuan keduanya. Inilah momen di mana Elphaba melepaskan stigma, persepsi negatif, dan beban menjadi “Wicked”. Untuk pertama kalinya, ia tampil apa adanya.

Menghidupkan Ikon Dorothy, Scarecrow, Tin Man, dan Cowardly Lion

Salah satu tantangan terbesar Tazewell adalah menciptakan ulang keempat ikon dari The Wizard of Oz agar tetap familiar namun relevan dengan dunia Wicked. Dorothy mengenakan gaun biru gingham klasik, tetapi dengan sentuhan yang lebih dekat ke ilustrasi buku L. Frank Baum. Tin Man memiliki permukaan logam keras, namun tetap mampu bergerak alami. Sang Singa Penakut dan Scarecrow juga dirancang untuk terasa seperti bagian dari dunia Wicked, bukan sekadar salinan dari film aslinya.

Madame Morrible & The Wizard

kostum wicked
Giles Keyte/Universal Pictures

Madame Morrible tampil megah dengan gaun emerald penuh simbol meteorologi, petir, awan, pusaran angin, yang mencerminkan kekuatan sihirnya. Wizard, sebaliknya, tampil teatrikal dengan detail circus-showman, penuh kemewahan dan ilusi visual.

Baca juga:   Siapa Pencipta Parfum Pertama di Dunia? Ini Ulasan Singkatnya!

Wicked: For Good bukan hanya karya musikal megah; film ini adalah perayaan seni kostum yang dikerjakan dengan detail nyaris obsesif. Paul Tazewell berhasil membuktikan bahwa pakaian bukan hanya pelengkap adegan, tetapi narasi tersendiri yang membawa karakter menuju evolusi terdalam mereka.

Di tangan Tazewell, kostum berubah menjadi bahasa visual, bahasa yang memperkaya kisah, menguatkan emosi, dan membuat dunia Oz hidup lebih magis dari sebelumnya.

Temukan artikel fashion terlengkap hanya di Laruna, stay stylish, stay updated!

Reference: 
https://www.harpersbazaar.com/culture/film-tv/a69452791/paul-tazewell-wicked-for-good-costumes-interview-2025/
https://www.vogue.com/article/wicked-for-good-costume-design-paul-tazewell
Copyright © 2023 - Style by Laruna - All rights reserved
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram