Monday, 01 January 2022

Alga: Masa Depan Green Fashion

Banyak hal buruk yang dilakukan oleh industri fashion, tapi banyak inovasi telah dikembangkan untuk mengurangi jejak karbon industri fashion di dunia kita.
March 13, 2023  | Levina Chrestella Theodora
alga
 

Jika kamu lelah dengan berita-berita buruk, saya akan memberitahumu satu hal, “keberlanjutan dan lingkungan merupakan hal yang utama bagi banyak pengusaha saat ini!

(Sumber: Unsplash/Brian Yurasits)

Di artikel ini, kita akan membahas satu inovasi green fashion yang dapat membuat industri lebih hijau dan ramah lingkungan– menggunakan alga (algae). 

Kenali Tanaman Alga, Tanaman Terpenting Dunia

Walau tidak memiliki rupa yang cantik, alga merupakan tanaman terpenting di dunia. Mengutip Champman (2013), pada awal sejarah kehidupan, alga mengubah atmosfer planet dengan memproduksi oksigen,membuka jalan bagi evolusi organisme eukariotik. Bisa dikatakan bahwa alga tanaman terpenting di dunia.

Produksi oksigen oleh alga, yaitu sekitar 50% dari seluruh produksi oksigen, adalah alasan lain untuk mengatakan ‘hidup kita bergantung pada ganggang’,” tulis Champman dalam risetnya. 

Menurut Britannica, alga didefinisikan sebagai sekelompok organisme yang sebagian besar hidup di air, berfotosintesis, dan memiliki nukleus yang tidak memiliki akar, batang, daun, dan struktur reproduksi multiseluler khusus seperti tanaman. 

Pigmen fotosintesisnya juga lebih bervariasi daripada tanaman, dan sel-selnya memiliki fitur yang tidak ditemukan di antara tanaman dan hewan.

Sedihnya, tanaman ini memiliki citra yang buruk. Champman menjelaskan bahwa dalam Bahasa Inggris, istilah umum alga termasuk "sampah kolam" dan bahkan "ludah katak". Dengan demikian, alga memiliki konotasi negatif saat kita membicarakannya. 

Banyak orang mungkin jijik dengan alga karena tanaman tersebut sering mengganggu kolam renang mereka. Padahal, alga adalah sumber dari semua kehidupan seluruh isi bumi. 

Alga memberi kita udara yang kita hirup, makanan yang kita makan, dan bahan bakar untuk mobil kita (di masa lalu dan, mungkin, di masa depan), juga merupakan sumber senyawa farmasi aktif yang dapat digunakan untuk lawan jenis bakteri yang resisten terhadap obat, virus (termasuk Herpes Simplex dan AIDS), dan kanker (Champman, 2010).

Baca juga:   Dari Biodesign ke Bahan Berkelanjutan yang Inovatif

Bagaimana Alga Digunakan Dalam Industri Fashion?

Lalu, bagaimana tanaman penting ini bisa dimasukkan ke dalam industri fashion agar lebih berkelanjutan? 

Menurut The European Parliament, industri tekstil dan pakaian global menggunakan 79 miliar meter kubik air pada tahun 2015, sementara kebutuhan seluruh ekonomi Uni Eropa mencapai 266 miliar meter kubik pada tahun 2017. 

Untuk membuat satu kaos katun, menurut perkiraan dibutuhkan 2.700 liter air tawar, cukup untuk memenuhi kebutuhan minum satu orang selama 2,5 tahun. Ini baru saja di Uni Eropa. Bayangkan angka globalnya?

Ditambah lagi, produksi tekstil diperkirakan bertanggung jawab atas sekitar 20% polusi air bersih global dari pencelupan dan finishing produk. Selain itu, pencucian bahan sintetis melepaskan sekitar 0,5 juta ton serat mikro ke lautan setiap tahunnya.

Nah, alga dapat menjadi alternatif dari bahan sintetis yang boros sumber daya dan juga dapat digunakan untuk menggantikan pigmen pewarna karbon hitam berbasis minyak. WGSN pun memprediksi bahwa alga yang tumbuh cepat dan terbarukan akan semakin diandalkan untuk membuat serat, busa, dan bahan yang berdampak rendah (pada lingkungan).

“Tinta alga dan hasil akhir kain sedang diujicobakan oleh berbagai merek di seluruh dunia, termasuk merek-merek seperti Pangaia, adidas, Patagonia, Levi's, dan Puma. Merek Vollebak, memelopori penggunaan tinta ganggang hitam untuk menggantikan pigmen pewarna karbon hitam berbasis minyak. Diperkirakan alga akan berkembang dalam mode pada 2023 dan seterusnya,” tulis WGSN dalam laporannya.

Selain itu, menurut El-Saadaway & Nemr (2012) yang mengutip Donmez & Aksu (2002), Alga telah ditemukan sebagai biosorben potensial karena ketersediaannya di air tawar dan air asin. Kapasitas biosorpsi ganggang disebabkan oleh luas permukaannya yang relatif tinggi dan afinitas pengikatan yang tinggi.

Baca juga:   Brand Fashion Mewah Menerapkan Sustainability, Begini Caranya

Walau semua ini berita baik, ada satu berita buruk: harga. Mengutip Bloomberg yang mewawancarai berbagai perusahaan yang menggunakan alga sebagai bahan, ditemukan bahwa tantangan terbesar untuk algae fashion bukanlah kepraktisan, kualitas, atau bahkan nuansa; melainkan biaya.

Pembuatan kaos rami dan alga menghabiskan biaya sekitar $110,” kata Tidball kepada Bloomberg, representatif Vollebak, startup asal Inggris yang didirikan pada tahun 2015 oleh saudara kembar. 

Mereka menjual kaos yang ditenun dari rami dan diwarnai dengan alga yang pada akhirnya bisa dibuang ke tumpukan kompos rumah tangga atau dikubur di kebun dan terurai dalam hitungan minggu.

Vollebak sengaja menjualnya kepada para selebriti untuk membantu menyebarkan berita ini dan ada segmen konsumen yang terus berkembang yang akan membelanjakan lebih banyak uang untuk pakaian yang ramah lingkungan. Namun, ia berbagi bahwa harga tersebut masih terlalu mahal untuk pasar massal.

“Dan teknologi baru apa pun; pikirkan panel surya, cangkir yang dapat terurai secara hayati, mobil listrik; akan mahal hingga mencapai skala besar. Kuncinya adalah membangun permintaan itu,” jelas Vollebak kepada Bloomberg.

Contoh Kasus: PUMA

PUMA merupakan salah satu brand yang menginkorporasikan alga pada produknya. PUMA berbagi bahwa sejak Juni 2017, PUMA dan Massachusetts Institute of Technology (MIT) telah melakukan penelitian di bidang biodesign.

(Sumber: PUMA)

Biodesign adalah praktik menggunakan bahan hidup seperti alga atau bakteri untuk membuat produk. Hal ini memungkinkan jersey sepak bola yang terbuat dari sutra laba-laba, kotak sepatu yang tumbuh dari miselium, struktur akar jamur, atau sekadar kaos yang memberi tahu pemakainya tentang kualitas udara,” tulis PUMA.

Salah satu contoh produk PUMA yang menggunakan alga adalah sepatunya. Pada 2019, PUMA berkolaborasi dengan brand mobil bergengsi, Porsche dengan “PUMA X Porsche Sportswear Collaboration” yang menampilkan gaya lini atas yang digerakkan oleh performa, sekaligus keberlanjutan.  

Baca juga:   Mengulik Tren Rental Fashion, Jauh Lebih Ramah Lingkungan?

Mengutip Footwear News, sepatu yang mereka buat menggunakan busa BLOOM berbahan dasar alga (30%) yang menggantikan plastik yang digunakan pada bantalan alas kaki konvensional. Bahkan, pewarna yang digunakan untuk membuat sol diproduksi melalui pencetakan 3D. Busa BLOOM ini juga digunakan oleh merek lain: Adidas, Yeezy, Reebok, dan H&M.

Tidak hanya sepatunya yang ramah lingkungan, PUMA mengatakan bahwa produk pakaian koleksi mereka dengan Porsche menggunakan insulasi Thermore® EcoDown®, yang diproduksi dari botol PET yang didaur ulang.

Konklusi

Siapa sangka, tanaman yang selama ini dianggap jijik oleh banyak orang merupakan tanaman yang penting bagi seluruh isi bumi ini. Alga dapat diolah dan digunakan sedemikian rupa sebagai pewarna atau diubah menjadi tekstil untuk memproduksi berbagai macam produk fashion seperti baju dan sepatu.

Berbagai brand sudah menginkorporasi alga dalam produknya sejak beberapa tahun lalu; dari brand mewah seperti PUMA dan fast-fashion seperti H&M. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran tentang keberlanjutan dalam industri fashion terus meningkat
Hanya saja, produk yang ramah lingkungan, termasuk produk fashion yang terbuat dari alga memiliki harga yang cukup mahal. Diperlukan sosialisasi yang lebih banyak mengenai pentingnya green fashion agar minat produk fashion yang berkelanjutan dapat meningkat.


With Laruna, you can combine your love for fashion and the planet by choosing sustainable options that fit your style and contribute to positive changes. Want to join Laruna as a content contributor? We'd love to spend time with you!

Reference: 
Champman. Algae: the world’s most important “plants”—an introduction. https://link.springer.com/article/10.1007/s11027-010-9255-9 (Diakses pada: 24 Februari 2023)

Britannica. Algae. https://www.britannica.com/science/algae (Diakses pada: 24 Februari 2023)

WGSN. Top Fashion Trends for 2023 & Beyond. https://www.wgsn.com/fashion/p/article/63b5911bdb6ac2ee7ada3734?lang=en&_gl=1*tbug7d*_ga*NDAwNTE0MjM5LjE2NjYwNjM2MDI.*_ga_3N1Q1PKH1F*MTY3NTkzODQxNC42LjEuMTY3NTkzODQ3Ni4wLjAuMA (Diakses pada: 24 Februari 2023)

PUMA. CHARLES JOHNSON ON HOW PUMA CREATES A BREATHING SHOE WITH THE HELP OF BACTERIA. https://www.puma-catchup.com/charles-johnson-on-how-puma-creates-a-breathing-shoe-with-the-help-of-bacteria/ (Diakses pada: 24 Februari 2023)

PUMA. PUMA AND MIT DESIGN LAB PRESENT BIODESIGN RESEARCH RESULTS. https://www.puma-catchup.com/can-bacteria-make-athlete-faster/ (Diakses pada: 24 Februari 2023)

Footwear News. Puma and Porsche Design Incorporate Sustainability Into Their Latest Collection. https://footwearnews.com/2020/focus/athletic-outdoor/puma-porsche-design-sustainable-shoes-release-info-1202944329/ (Diakses pada: 24 Februari 2023)

PUMA. PUMA X PORSCHE DESIGN: SUSTAINABLE SPEED FOR A FOREVER FASTER WORLD. https://about.puma.com/en/newsroom/brand-and-product-news/2020/2020-03-05-porsche-design (Diakses pada: 24 Februari 2023)

Be a Contributor and 
Write for Us
Tell me more
Copyright © 2023 - Style by Laruna - All rights reserved
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram