
Polyester adalah salah satu bahan tekstil paling umum yang digunakan dalam industri fashion modern. Mulai dari pakaian sehari-hari, busana olahraga, hingga fast fashion, polyester hadir hampir di setiap lini produk. Harganya yang terjangkau, tampilannya yang rapi, serta daya tahannya yang tinggi membuat bahan ini sangat digemari oleh produsen maupun konsumen. Namun, di balik popularitasnya, polyester menyimpan sejumlah risiko yang jarang disadari, baik bagi kesehatan tubuh maupun lingkungan.
Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran akan fashion berkelanjutan dan kesehatan kulit mendorong banyak orang untuk kembali mempertanyakan bahan pakaian yang mereka kenakan. Polyester, yang merupakan serat sintetis berbasis plastik, mulai menjadi sorotan. Artikel ini akan membahas secara mendalam apa bahaya outfit dengan bahan polyester, dampak negatifnya, serta alternatif bahan yang lebih aman dan ramah untuk tubuh dan bumi.
Polyester adalah serat sintetis yang berasal dari minyak bumi dan diproduksi melalui proses kimia. Secara teknis, polyester termasuk dalam kelompok polimer plastik. Proses pembuatannya melibatkan reaksi kimia antara alkohol dan asam, kemudian dipintal menjadi serat panjang yang bisa ditenun menjadi kain.
Karakteristik utama polyester adalah kuat, tidak mudah kusut, cepat kering, dan relatif tahan lama. Bahan ini juga mampu mempertahankan warna dengan baik sehingga pakaian terlihat cerah lebih lama. Inilah alasan mengapa polyester menjadi tulang punggung industri fast fashion, di mana kecepatan produksi dan efisiensi biaya menjadi prioritas utama.
Namun, sifat-sifat tersebut juga berkaitan langsung dengan berbagai risiko yang muncul, terutama ketika polyester bersentuhan langsung dengan kulit dalam jangka waktu lama.
Salah satu bahaya utama polyester terletak pada dampaknya terhadap kesehatan kulit. Karena berasal dari plastik, polyester tidak memiliki kemampuan bernapas seperti serat alami. Kain ini tidak menyerap keringat dengan baik, melainkan hanya memindahkan kelembapan ke permukaan kain.
Akibatnya, keringat dan panas terperangkap di antara kulit dan pakaian. Kondisi ini menciptakan lingkungan lembap yang ideal bagi pertumbuhan bakteri dan jamur. Pada kulit sensitif, hal ini dapat memicu iritasi, gatal-gatal, ruam, hingga infeksi kulit seperti dermatitis kontak.
Bagi orang yang memiliki kondisi kulit tertentu seperti eksim atau psoriasis, penggunaan polyester dalam waktu lama bisa memperparah gejala. Gesekan antara kain sintetis dan kulit juga cenderung lebih kasar dibandingkan bahan alami, sehingga meningkatkan risiko lecet atau peradangan ringan.
Selain itu, Polyester dikenal sebagai bahan yang buruk dalam mengatur suhu tubuh. Karena tidak memiliki pori-pori alami, sirkulasi udara menjadi sangat terbatas. Tubuh kesulitan melepaskan panas, terutama di iklim tropis seperti Indonesia.
Dalam jangka pendek, hal ini menyebabkan rasa gerah dan tidak nyaman. Namun dalam jangka panjang, penggunaan pakaian yang menghambat regulasi suhu tubuh dapat memicu heat rash atau biang keringat. Pada aktivitas fisik tinggi, kondisi ini bahkan bisa meningkatkan risiko dehidrasi karena tubuh berkeringat lebih banyak tanpa penguapan yang efektif.
Masalah ini sering tidak disadari karena polyester kerap dipromosikan sebagai bahan olahraga. Padahal, meski cepat kering, kain ini tetap tidak memberikan sirkulasi udara yang optimal bagi kulit.
Selain berdampak pada kesehatan manusia, polyester juga membawa konsekuensi serius bagi lingkungan. Karena terbuat dari plastik, polyester tidak dapat terurai secara alami. Satu potong pakaian polyester bisa membutuhkan ratusan tahun untuk terurai di tempat pembuangan akhir.
Masalah lain yang lebih tersembunyi adalah pelepasan mikroplastik. Setiap kali pakaian polyester dicuci, serat-serat mikroplastik akan terlepas dan mengalir ke sistem air. Mikroplastik ini akhirnya mencemari sungai, laut, dan masuk ke rantai makanan manusia.
Dampak ini menjadikan polyester sebagai salah satu penyumbang polusi plastik terbesar dari sektor fashion. Dalam jangka panjang, efeknya tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga berpotensi kembali ke tubuh manusia melalui makanan dan air yang terkontaminasi.
Mengurangi penggunaan polyester bukan berarti mengorbankan gaya. Ada banyak bahan alternatif yang lebih aman bagi tubuh dan lingkungan, sekaligus tetap stylish dan nyaman digunakan sehari-hari.
Katun adalah salah satu alternatif paling umum dan mudah ditemukan. Sebagai serat alami, katun memiliki kemampuan menyerap keringat dengan baik dan memungkinkan kulit bernapas. Bahan ini cocok untuk iklim panas dan aktivitas sehari-hari.
Katun juga relatif aman bagi kulit sensitif dan jarang menyebabkan iritasi. Untuk pilihan yang lebih berkelanjutan, katun organik menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan karena diproduksi tanpa pestisida berbahaya.
Linen berasal dari serat tanaman flax dan dikenal sebagai bahan yang sangat breathable. Teksturnya ringan dan mampu menjaga tubuh tetap sejuk, menjadikannya ideal untuk cuaca tropis.
Meskipun linen mudah kusut, justru karakter ini kini dianggap sebagai bagian dari estetika natural dan effortless dalam fashion lifestyle modern. Linen juga memiliki daya tahan yang baik dan semakin lembut seiring waktu.
Tencel dan modal adalah serat semi-alami yang berasal dari pulp kayu. Proses produksinya lebih ramah lingkungan dibandingkan polyester dan menghasilkan kain yang sangat lembut, halus, serta nyaman di kulit.
Bahan ini memiliki kemampuan menyerap kelembapan yang baik dan bersifat antibakteri alami. Tencel dan modal sering digunakan dalam pakaian sehari-hari, loungewear, hingga pakaian kerja modern karena tampilannya yang jatuh dan elegan.
Temukan artikel fashion terlengkap hanya di Laruna, stay stylish, stay updated!




