
Fashion 2026 bergerak ke arah yang semakin berani membawa identitas budaya ke permukaan. Bukan lagi sekadar tren visual, tapi juga soal cerita dan konteks yang menyertainya. Di tengah arus itu, jaket adidas Shanghai muncul sebagai salah satu statement paling kuat tahun ini.
Jaket ini tidak lahir sebagai produk musiman biasa. Dalam waktu singkat, ia jadi bahan perbincangan, dicari di mesin pencari, dan diperebutkan di pasar resale. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa publik melihatnya lebih dari sekadar jaket bertema Imlek.
Ada sesuatu yang berbeda dari cara adidas merancang rilisan ini. Bukan hanya soal desain, tapi bagaimana elemen budaya diramu tanpa terasa artifisial. Jaket adidas Shanghai terasa relevan, modern, dan tetap menghormati akar estetikanya.
Hal pertama yang langsung mencuri perhatian tentu saja desainnya. Kerah Shanghai menjadi titik fokus utama, memberi kesan tegas dan elegan sejak pandangan pertama. Kerah ini bukan aksesori tempelan, melainkan bagian struktural yang membentuk karakter jaket secara keseluruhan.
Sistem penutupnya menggunakan frog closures atau kancing simpul khas Tiongkok. Detail ini menggantikan ritsleting atau kancing modern yang biasa ditemui pada jaket sportswear. Hasilnya adalah siluet yang terasa formal, tapi tetap santai ketika dipadukan dengan gaya streetwear.
Inspirasi desainnya ditarik dari jaket klasik era Dinasti Tang. Namun adidas tidak sekadar meniru bentuk lama. Potongan jaket dibuat lebih boxy dan proporsional, sehingga cocok dengan selera fashion masa kini yang mengutamakan kenyamanan dan layering.
Material yang digunakan juga mendukung kesan premium. Teksturnya terasa solid, jatuh rapi, dan tidak kaku saat dikenakan. Ini membuat jaketnya fleksibel, bisa kamu pakai untuk aktivitas kasual, nongkrong, sampai acara yang sedikit lebih formal.

Soal warna, adidas memilih palet yang kuat namun tidak berisik. Nuansa gelap dengan sentuhan merah dan hitam mendominasi, menciptakan kesan matang dan berkelas. Warna-warna ini tidak hanya identik dengan Imlek, tapi juga mudah masuk ke berbagai gaya personal.
Menariknya, adidas tetap mempertahankan identitas brand mereka. Tiga garis ikonik Three Stripes hadir secara subtil di bagian bahu dan lengan. Detail ini menjadi pengingat bahwa meskipun jaketnya sarat nuansa budaya, DNA sportswear adidas tetap melekat kuat.
Siluet oversized menjadi nilai tambah tersendiri. Potongan ini sejalan dengan tren street tailored yang sedang naik daun di 2026. Jaket terlihat tegas tanpa membuat pemakainya tampak kaku, justru memberi kesan effortless dan percaya diri.
Jaket adidas Shanghai ini merupakan bagian dari koleksi adidas China bertajuk “New Chinese Style” untuk Imlek 2026. Koleksi tersebut diperkenalkan dalam ajang Shanghai Fashion Week melalui runway bertema “POWER OF THREE”. Lewat panggung ini, adidas menegaskan posisinya sebagai brand global yang serius mengeksplorasi identitas lokal.
Selama ini, banyak brand global sering terjebak pada pendekatan visual yang dangkal saat mengangkat budaya Tiongkok. Motif tradisional hanya dijadikan dekorasi, tanpa pemahaman konteks dan filosofi di baliknya. Pendekatan seperti ini semakin ditinggalkan, terutama oleh Gen Z yang semakin kritis terhadap representasi budaya.
Jaket adidas Shanghai mengambil arah yang berbeda. Setiap detailnya dirancang dengan pertimbangan makna. Kancing bernuansa giok dipilih karena giok melambangkan keseimbangan dan kemurnian dalam budaya Tiongkok. Quilting bermotif awan merepresentasikan harapan baik dan keberuntungan, elemen yang kerap hadir dalam seni klasik.
Aksesori kuningan pada jaket memberi sentuhan vintage yang halus. Elemen ini mengingatkan pada perhiasan dan ornamen kuno, namun dikemas dalam bahasa desain modern. Detail-detail kecil inilah yang membuat jaket ini terasa kaya, bukan sekadar “ramai”.
Dari sisi styling, jaket ini cukup fleksibel. Kamu bisa memadukannya dengan celana tailored untuk tampilan rapi, atau dengan jeans dan sneakers untuk gaya kasual. Bahkan dipakai sebagai outer statement, jaket ini sudah cukup berbicara tanpa perlu aksesori berlebihan.
Tak heran jika jaket adidas Shanghai cepat menjadi incaran. Ia berada di persimpangan antara fashion, budaya, dan identitas diri. Bagi banyak orang, terutama generasi muda, mengenakan jaket ini berarti mengekspresikan selera sekaligus nilai yang mereka yakini.
Lebih dari sekadar produk Imlek, jaket ini menandai perubahan cara brand global membaca pasar Asia. Adidas tidak lagi berbicara “tentang” budaya Tiongkok, tetapi mencoba berdialog dengannya. Hasilnya adalah desain yang terasa tulus, bukan gimmick.
Di 2026, ketika fashion semakin dituntut untuk punya makna, jaket adidas Shanghai hadir sebagai contoh bagaimana budaya bisa diterjemahkan ke dalam desain modern tanpa kehilangan rohnya. Bukan hanya tren sesaat, tapi representasi dari arah baru fashion global yang lebih sadar, kontekstual, dan berani.
Temukan artikel fashion terlengkap hanya di Laruna, stay stylish, stay updated!




