
Jennie BLACKPINK kembali membuktikan statusnya sebagai ikon global yang selalu berhasil mencuri perhatian, bahkan sebelum ia menyanyikan satu bait lagu pun. Kemunculannya di Melon Music Awards (MMA) 2025 langsung menjadi perbincangan hangat, bukan hanya karena ini adalah comeback-nya ke panggung penghargaan Korea setelah enam tahun, tetapi juga karena pilihan busana yang sarat makna.
Di tengah gemerlap Gocheok Sky Dome, Seoul, Jennie hadir bukan sekadar sebagai performer, melainkan sebagai sosok yang membawa narasi budaya lewat fashion. Gaun yang ia kenakan malam itu menjelma menjadi medium cerita tentang identitas, akar budaya, dan perjalanan personal seorang bintang dunia.
Seperti apa detail outfit sarat makna yang dikenakan oleh Jennie di MMA 2025? Simak ulasannya di bawah ini!

Penampilan pembuka Jennie lewat lagu Seoul City langsung mengunci perhatian publik. Ia tampil mengenakan veil putih menjuntai dramatis sepanjang kurang lebih 15 meter, menciptakan efek visual yang megah dan nyaris sakral di atas panggung.
Veil tersebut bukan kain polos biasa. Seluruh permukaannya dipenuhi tulisan aksara Hangul yang tersusun rapi, membentuk pola artistik yang bergerak mengikuti setiap langkah Jennie. Saat lampu sorot menyinari panggung, tulisan-tulisan itu tampak hidup, seolah menjadi bagian dari koreografi.
Di balik veil panjang tersebut, Jennie memadukan cropped top putih berbahan satin dengan celana pendek senada. Siluet ini menciptakan kontras yang menarik antara kesan lembut dan intim di dalam, dengan lapisan luar yang monumental dan penuh simbol.
Gaun ini dirancang oleh brand LE JE, label fashion yang dikenal dengan pendekatan konseptual dan narasi budaya yang kuat.
Menurut penjelasan LE JE, tulisan Hangul yang menghiasi veil berasal dari Cheonggu Yeongeon, yang berarti Koleksi Lagu Tradisional. Karya tersebut diyakini sebagai salah satu buku lirik lagu Korea tertua yang ditulis menggunakan alfabet Hangul, menjadikan busana ini sebagai penghubung antara masa lalu dan masa kini.
Di momen pembukaan lagu, Jennie tampak menutupi wajahnya dengan veil. Gestur ini bukan tanpa alasan. Alih-alih menciptakan jarak dengan penonton, veil justru membangun ketegangan emosional, membuat momen saat wajah Jennie akhirnya terlihat terasa lebih kuat dan personal.
Detail ini memperlihatkan bagaimana busana panggung Jennie dirancang sebagai bagian dari storytelling. Setiap lapisan, tulisan, dan panjang kain memiliki peran dalam membangun atmosfer, bukan sekadar estetika visual semata.

marie claire kr
Gaun dengan veil 15 meter yang dikenakan Jennie di MMA 2025 bukan sekadar kostum panggung yang spektakuler. LE JE menjelaskan bahwa tudung tersebut merupakan simbol konfrontasi antara seseorang dengan akar dan asal-usulnya.
Inspirasi desain ini disebut lahir dari kecintaan Jennie terhadap Korea dan Hangul. Busana tersebut menjadi pernyataan bahwa kesuksesan global tidak harus menghapus identitas budaya, justru bisa memperkuatnya.
Makna ini semakin terasa ketika Jennie melanjutkan penampilannya ke lagu Zen dan Like Jennie. Untuk lagu Zen, ia melapisi crop top dan short putihnya dengan outer bermotif Hangul yang kemudian dilepas di tengah penampilan, seolah menandai transisi dari simbol ke ekspresi diri yang lebih bebas.
Saat memasuki lagu Like Jennie, ia tampil dengan busana berbeda yang juga dirancang oleh LE JE. Kali ini, Jennie mengenakan jaket putih perak penuh payet yang berkilau di bawah lampu panggung.
Yang membuat jaket ini istimewa, setiap keping payet peraknya bertuliskan nama “Jennie” dalam aksara Hangul. Kabarnya, busana ini membutuhkan lebih dari 200 jam pengerjaan.
LE JE menjelaskan bahwa jaket tersebut merepresentasikan proses pembuktian diri yang berulang, di mana seseorang terus menyebut namanya sendiri hingga akhirnya diakui. Ini menjadi metafora kuat tentang perjalanan Jennie sebagai solois perempuan di industri yang kompetitif.
Menariknya, pesan yang dibawa busana ini tidak berhenti pada level personal. Dengan menggunakan bahasa ibu sebagai medium utama, Jennie menegaskan bahwa identitas perempuan modern tidak perlu didefinisikan dari sudut pandang luar.
Konsep fashion sebagai pernyataan budaya ini terasa konsisten sepanjang penampilan Jennie di MMA 2025. Bahkan saat di karpet merah, ia memilih busana haute couture berupa korset putih yang dipadukan dengan rok hitam berstruktur, memperlihatkan sisi elegan yang tetap berkarakter.
MMA 2025 sendiri dipenuhi deretan bintang besar K-pop, mulai dari G-Dragon, EXO, hingga aespa dan IVE. Namun, penampilan Jennie terasa menonjol karena berhasil menyatukan musik, fashion, dan narasi budaya dalam satu panggung.
Tak hanya soal visual, malam itu juga menjadi momen perayaan pencapaian Jennie sebagai solois. Ia membawa pulang tiga penghargaan bergengsi, termasuk Record of the Year untuk album Ruby, serta Top 10 dan Millions Top 10.
Temukan artikel fashion terlengkap hanya di Laruna, stay stylish, stay updated!




