Monday, 01 January 2022

Prediksi Tren London Fashion Week Fall/Winter 2026: Warisan Inggris, Eksperimen Modern, dan Kembalinya Power Dressing

Di London Fashion Week 2026, keberanian bertemu tradisi—menciptakan tren yang tak hanya dikenakan, tapi juga diceritakan
April 6, 2026  | Melisa Nirmaladewi
 

London Fashion Week Fall/Winter 2026 resmi membuktikan bahwa ibu kota Inggris masih menjadi pusat eksperimen paling berani dalam kalender mode dunia. Digelar pada 19–23 Februari 2026, musim ini menghadirkan kombinasi antara warisan klasik British dan pendekatan desain yang lebih modern, struktural, serta fungsional untuk musim dingin.

Momen-momen tak terlupakan pun turut mewarnai pekan mode kali ini. Kehadiran mendadak King Charles III di barisan depan debut runway Tolu Coker menjadi salah satu sorotan utama. Tak kalah mengejutkan, penampilan spesial Little Simz memberikan energi berbeda di tengah atmosfer aristokratik yang kental. Penutupan spektakuler dari Burberry di Old Billingsgate Market pun terasa simbolis, seakan menegaskan bahwa London benar-benar kembali sebagai kota mode yang patut diperhitungkan.

Berikut delapan prediksi tren utama dari London Fashion Week Fall/Winter 2026 yang diperkirakan akan mendominasi tahun ini.

1. Military Precision dan Kembalinya Napoleon Jacket

london fashion week
launchmetrics

Sentuhan militer tampil dominan musim ini, bukan dalam bentuk kostum teatrikal, melainkan lewat detail presisi dan struktur tegas. Siluet jaket ala Napoleon dengan kancing emas, braided frog closures, hingga pin dekoratif muncul di berbagai runway.

Desainer seperti Sinead Gorey dan Keburia menampilkan pendekatan ironis dan nostalgia terhadap estetika militer yang sempat populer di era indie sleaze. Sementara Conner Ives menghadirkan jaket denim dengan detail kepang emas yang regal, dan Labrum London mengeksplorasi siluet terstruktur dengan pendekatan lebih heritage.

Baca juga:   Gaun Pengantin Beby Tsabina: Kental Adat Aceh yang Glamor

Tren ini menunjukkan bahwa tailoring dengan sentuhan disiplin militer akan menjadi statement kuat untuk musim gugur dan dingin mendatang.

2. Plaid dan Tartan dalam Versi Baru

Motif kotak-kotak adalah DNA Inggris, dan musim ini plaid tampil lebih berani serta eksperimental. Burberry tetap menampilkan referensi Nova check yang ikonis, namun dengan pendekatan lebih subtle dan refined.

Sebaliknya, Emilia Wickstead dan Tolu Coker menghadirkan plaid dalam warna kontras yang lebih berani, diaplikasikan pada set tailoring dua hingga tiga potong. Bora Aksu memilih dogstooth dan houndstooth klasik untuk sentuhan yang lebih tradisional.

Plaid musim ini bukan sekadar nostalgia, tetapi reinterpretasi modern yang lebih segar dan fleksibel untuk berbagai gaya.

3. Power Dresses Are Back

Selama beberapa musim terakhir, fashion cenderung mengutamakan separates, rok, blazer, atau set tailoring. Namun Fall/Winter 2026 menandai kembalinya gaun sebagai pusat perhatian. Istilah “power dresses” terasa relevan ketika melihat koleksi runway musim ini.

Richard Quinn menghadirkan gaun klasik dengan sentuhan teatrikal, sementara Simone Rocha mengeksplorasi siluet dramatis dengan volume dan tekstur khasnya. Erdem Moralioglu, yang merayakan ulang tahun ke-20 label Erdem, fokus pada tekstur brocade dan nuansa romantis aristokratik.

Gaun musim ini bukan sekadar feminin, tetapi juga kuat dan penuh karakter, siap menjadi pilihan utama untuk acara formal hingga momen spesial.

4. Victoriana yang Lebih Whimsical

london fashion week
launchmetrics

Pengaruh era Victoria kembali terasa, namun dengan pendekatan yang lebih ringan dan whimsical dibanding musim sebelumnya yang cenderung gothic. High collar kaku di bawah blazer, renda bertumpuk, serta rok frou-frou menjadi elemen penting.

Simone Rocha dan Bora Aksu konsisten menghadirkan lace detail dan lapisan sheer yang dramatis. Sementara Conner Ives mereferensikan dandyism dengan sentuhan 80-an melalui cummerbund dan neckerchief.

Baca juga:   Rayakan 100 Tahun Disney, Tommy Hilfiger Rilis Koleksi 'Disney x Tommy'

Victoriana kali ini terasa lebih playful, membaurkan sejarah dengan sentuhan kontemporer.

5. Tekstur yang Menggoda

Musim gugur dan dingin identik dengan tekstur, dan London tidak mengecewakan. Faux-fur coat panjang, shearling jacket, hingga aviator bomber tampil dominan.

Joseph, yang kembali ke London dengan show di Tate Modern, menawarkan “quiet luxury 2.0” dengan knitwear berhiaskan rhinestones dan detail bead panjang. Daniel Lee di Burberry menghadirkan trench coat bertekstur dengan interpretasi baru.

Detail bulu juga muncul dalam bentuk lebih tak terduga, seperti furry flats di Erdem dan faux-fur polo shirt dari Fashion East. Tekstur menjadi elemen emosional—mengundang sentuhan sekaligus memberi kehangatan visual.

6. Headwear Jadi Statement

Tahun 2026 tampaknya menjadi era kebangkitan topi. Untuk Fall/Winter, model deer-stalker dan trapper mendominasi runway.

Labrum London serta Argo menghadirkan deer-stalker dengan sentuhan heritage Inggris. Sementara Oscar Ouyang dan Sinead Gorey menampilkan trapper hat oversized berlapis shearling.

Headwear bukan lagi aksesori pelengkap, melainkan pusat perhatian dalam styling musim ini.

7. Frigid Florals, Bunga dalam Nuansa Dingin

Floral di musim dingin mungkin terdengar kontras, tetapi London menghadirkannya dengan pendekatan lebih gelap dan sophisticated. Patrick McDowell dan Richard Quinn menampilkan motif bunga pada siluet vintage yang tetap timeless.

Emilia Wickstead mempertahankan off-shoulder feminin khasnya, sementara Simone Rocha menambahkan pita dan rosette sebagai signature detail.

Floral musim ini bukan ceria musim semi, melainkan versi dewasa yang penuh kedalaman.

8. Heavy Embellishments untuk Para Maksimalis

Jika ada satu kata yang menggambarkan A/W 26, itu adalah maksimalis. Bahkan brand minimalis seperti Joseph menghadirkan knit set dengan hiasan manik-manik panjang menyerupai spike.

Bros dan pin tampil mencolok, terutama di runway Toga yang menampilkan gaun dengan bagian bawah dipenuhi brooch. Di tangan Simone Rocha dan Erdem, embellishment tampil ultra-feminin dengan sentuhan jewelled pins dan rosette.

Baca juga:   Le Paysan: Busana Pria Jacquemus dengan Gaya Santai

Detail berlebihan justru menjadi daya tarik, membuktikan bahwa musim dingin 2026 tidak akan terasa membosankan.

London sebagai Rumah Talenta Muda

Meski termasuk “Big Four”, London tetap dikenal sebagai rumah bagi talenta muda eksperimental. Desainer seperti Grace Wales Bonner, Martine Rose, dan Chopova Lowena menunjukkan bahwa inovasi tetap menjadi jantung kota ini.

Didukung oleh program NEWGEN dari British Fashion Council, regenerasi kreatif terus terjaga, membuat London berbeda dari kota mode lain yang lebih komersial.

London Fashion Week Fall/Winter 2026 menegaskan satu hal: warisan Inggris tidak pernah kehilangan relevansi. Dari tailoring militer, plaid klasik, hingga Victoriana yang diperbarui, semua elemen heritage tampil dalam versi yang lebih modern dan wearable.

Musim ini juga menandai kembalinya power dressing, tekstur maksimal, dan keberanian bereksperimen. Jika New York menekankan wearability dan Paris bermain dalam ranah couture, maka London tetap menjadi ruang eksplorasi—tempat sejarah dan masa depan bertemu dalam satu runway.

Fall/Winter 2026 bukan sekadar musim mode. Ia adalah deklarasi bahwa London, dengan segala eksentrisitas dan tradisinya, masih menjadi kota yang memimpin percakapan global tentang gaya.

With Laruna, you can stay ahead of the curve by embracing the latest fashion trends that define the season. Elevate your wardrobe with our curated style updates and ensure you're always dressed for the moment.

Reference: 
https://www.vogue.com/article/5-key-takeaways-from-london-fashion-week-fall-winter-2026
https://www.whowhatwear.com/fashion/runway/london-fashion-week-autumn-winter-2026-trends#section-1-military-precision
Copyright © 2023 - Style by Laruna - All rights reserved
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram