Monday, 01 January 2022

Koleksi Harry Halim Bertajuk Finality, Tampilan Mode yang Penuh Emosi

Seni bukan sekadar apa yang dipakai, tapi bagaimana perasaan itu terbungkus. Finality adalah akhir yang indah untuk sebuah awal yang baru
February 18, 2026  | Kingkit Neira
harry halim
 

Kalau kamu berpikir dunia fashion cuma soal glamor dan gaya, kamu harus kenal lebih dekat dengan koleksi Autumn/Winter 2025 dari Harry Halim yang bertajuk Finality. Koleksi ini bukan sekadar barisan busana indah di atas runway, tapi juga curahan emosi terdalam dari sang desainer. Dengan judul yang kuat, Finality, koleksi ini berbicara banyak tentang rasa kehilangan, ketidakpastian, dan bagaimana manusia mencari makna dalam situasi yang tak terelakkan.

Finality bukan cuma soal musim dingin atau tren yang lewat. Koleksi ini terasa lebih personal, lebih jujur, dan menyentuh di luar permukaan kain dan pola. Harry Halim menggunakan fashion sebagai medium untuk menyampaikan kisah hidup yang sedang ia jalani. Momen penting dalam hidupnya, yakni saat orang yang paling ia cintai terbaring sakit menjadi bahan bakar emosional di balik karya ini.

Melalui 33 tampilan yang semuanya didominasi warna hitam, kamu bisa merasakan betapa dalamnya pergolakan batin yang dituangkan ke dalam setiap potongan. Bukan sekadar estetika gelap, tapi simbol dari perasaan kehilangan, kehampaan, dan penerimaan. Ada keheningan yang terasa lantang dalam setiap look, sesuatu yang hanya bisa dipahami jika kamu merasakannya sendiri.

Tak heran jika banyak yang bilang koleksi ini terasa lebih seperti pertunjukan seni ketimbang peragaan busana. Finality adalah ekspresi, pengakuan, dan penghormatan. Sebuah momen di mana fashion dan kehidupan menyatu, tak terpisahkan.

harry halim
Dok Harry Halim

Detail Finality yang Penuh Emosi

Di balik setiap tampilan Finality, ada narasi yang ingin disampaikan. Harry Halim mengekspresikan cerita hidupnya dengan tailoring tajam dan siluet klasik. Mantel panjang berbahan wool, aksen kulit, dan bulu buatan tampil menjadi identitas visual koleksi ini. Tapi semua itu bukan cuma tentang bahan, melainkan bagaimana bahan itu digunakan untuk menciptakan mood.

Baca juga:   Evolusi Fashion: Memahami Tren Fashion di Era Modern

Jika koleksi sebelumnya yang bertajuk Redemption lebih teatrikal dan penuh drama visual, Finality justru mengambil langkah sebaliknya. Tetap kuat, tapi lebih tenang. Ada rasa pasrah yang elegan, seolah Harry ingin bilang bahwa menerima keadaan pun bisa tampil menawan. Warna hitam mendominasi, dengan sedikit aksen merah dan nude. Hitam untuk duka, merah sebagai tanda kehidupan yang masih ada, dan nude melambangkan kemurnian.

Kamu juga akan melihat detail seperti veil menutupi wajah model, ini menguatkan kesan misterius sekaligus menyedihkan. Beberapa tampil dengan fedora hitam dari kulit, memberi kesan vintage sekaligus dramatis. Semuanya terasa sangat sinematik.

Dan untuk memperkuat cerita, tata rias dari Gummi Arya dan Bella Feryana tampil berani dengan riasan dramatis. Gaya rambut oleh Mirror Mirror dan Hendro Sudarta juga mendukung keseluruhan atmosfer, dengan sentuhan punk wave yang memberi kontras menarik.

Harry nggak sendiri dalam menampilkan koleksi ini. Ia menggandeng wajah-wajah familiar seperti Jihane Almira Chedid, Chicco Jerikho, dan Egi Fedly yang menurut Harry sangat cocok mewakili karakter brand-nya. Menariknya, Adinia Wirasti juga ikut tampil untuk pertama kalinya dalam show ini.

Koleksi ini juga mendapat dukungan dari NJS Gold by Naomi, brand perhiasan emas asal Indonesia yang sudah dua kali menjadi sponsor dalam pertunjukan Harry. Kolaborasi ini memperkuat kesan elegan dan eksklusif dari koleksi yang penuh makna ini.

harry halim
Dok Harry Halim

Kisah di Balik Layar: Harry Halim dan Perjalanan Pribadinya

Finality lahir dari cerita yang sangat pribadi. Dalam wawancara, Harry Halim menyebut koleksi ini sebagai persembahan untuk sang ayah yang sejak Januari 2025 mengalami sakit parah. “Setiap hari saya melihat beliau kehilangan harapan. Saya pikir itu yang jadi inti dari koleksi ini,” kata Harry. 

Baca juga:   Pengaruh Mode non-Vegan pada Industri Fashion

Menuju usia 40 tahun di bulan April, Harry memandang koleksi ini sebagai refleksi dirinya. Usia, pengalaman, kehilangan, semuanya berpadu dalam satu karya besar. Dan itu terasa sekali saat kamu melihat keseluruhan koleksi.

Tapi siapa sih sebenarnya Harry Halim?

Lahir di Indonesia dan besar di Singapura, Harry mengalami masa kecil yang penuh rasa asing. Di Singapura, dia dipanggil “anak Indo”, sementara di Indonesia ia dianggap “anak Singapura”. Rasa tidak punya tempat itu yang kemudian membentuk karakter dan pencariannya akan identitas.

Ia nggak langsung masuk dunia fashion. Justru awalnya lebih tertarik ke seni dan hiburan. Tapi seorang dosen melihat potensi besar dalam karya Harry yang elegan dan glamor, lalu mengajaknya masuk ke program mode. Saat pertama kali masuk studio mode, melihat mesin jahit dan manekin, Harry langsung jatuh cinta.

Ia kemudian belajar mode di LaSalle College of the Arts di Singapura. Meski awalnya nggak bisa menjahit dan buta istilah teknis, ia berkembang pesat. Lulus dari sana, Harry bekerja dengan desainer senior Celia Loe dan kemudian perusahaan global berbasis di London.

Keberuntungan berpihak padanya saat ia ikut lomba Asian Young Designers dan menang, mewakili Singapura karena status PR. Dengan hadiah yang ia dapat, ia memutuskan untuk meluncurkan label sendiri, bukan di Singapura, tapi langsung di Paris. Gila? Mungkin. Tapi justru itu yang membuatnya berhasil.

Tahun 2012, ia debut di Paris Fashion Week. Namanya langsung mencuri perhatian berkat gaya desain yang sculptural, edgy, dan romantis. Ia menyihir dunia mode dengan sesuatu yang segar dari Asia Tenggara. Sejak itu, nama Harry Halim terus naik.

Pada 2017, ia membuka butik pertamanya di Jakarta, awalnya hanya ingin pindahkan ruang produksi dari Paris. Tapi ternyata, produksi di Jakarta jauh lebih efisien. Sekarang, Jakarta jadi basis utama bisnisnya, meski ia tetap rutin bolak-balik ke Paris dan Los Angeles.

Baca juga:   Beragam Kolaborasi Menarik Sepak Bola dan Fashion Sejauh Ini

Kini, karya-karya Harry telah dikenakan oleh nama-nama besar dunia seperti Lady Gaga, Dua Lipa, Miley Cyrus, Christina Aguilera, Billy Porter, sampai Agnez Mo. Bagi Harry, ini bukan sekadar pencapaian pribadi, tapi bukti bahwa karya desainer Asia Tenggara bisa diakui di panggung global.

Mode Sebagai Cermin Emosi

Finality jadi bukti bahwa mode bisa bicara lebih dari sekadar tren. Ia bisa menjadi bahasa untuk menyampaikan luka, harapan, dan kenangan. Koleksi ini seperti surat terbuka dari Harry Halim untuk ayahnya, untuk dirinya sendiri, dan untuk siapa pun yang sedang mengalami hal serupa, seperti kehilangan, keputusasaan, atau mungkin sekadar hampa.

Dengan semua itu, Finality bukan cuma tentang apa yang kamu kenakan. Tapi juga tentang apa yang kamu rasakan. Karena pada akhirnya, fashion yang paling jujur adalah yang datang dari hati.

Dan Harry Halim, lewat Finality, telah membuktikan bahwa ketika emosi bertemu kain, hasilnya bisa sangat menyentuh dan tak terlupakan.

Temukan artikel fashion terlengkap hanya di Laruna, stay stylish, stay updated!

Reference: 
https://elle.co.id/fashion/kisah-desainer-harry-halim-melawan-arus
Copyright © 2023 - Style by Laruna - All rights reserved
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram