Monday, 01 January 2022

Mengapa Warna Pink Dulu Identik dengan Laki-Laki?

Bagaimana warna pink bisa berubah dari simbol yang pernah diasosiasikan dengan laki-laki menjadi warna yang identik dengan perempuan?
June 26, 2026  | Melisa Nirmaladewi
warna pink untuk laki laki
 

Saat ini, banyak orang secara otomatis mengasosiasikan warna pink dengan perempuan dan warna biru dengan laki-laki. Pembagian warna ini begitu umum ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pakaian bayi, mainan anak-anak, dekorasi kamar, hingga strategi pemasaran berbagai produk. Akibatnya, banyak yang menganggap bahwa hubungan antara warna pink dan perempuan merupakan sesuatu yang alami atau telah ada sejak dahulu kala.

Namun, jika menelusuri sejarah fashion dan budaya lebih jauh, kenyataannya justru sangat berbeda. Dalam berbagai periode sejarah, warna pink pernah dianggap lebih cocok untuk laki-laki, sementara warna biru justru lebih sering dikaitkan dengan perempuan. Bahkan, konsep warna berdasarkan gender seperti yang dikenal saat ini sebenarnya merupakan konstruksi sosial yang terus berubah mengikuti perkembangan budaya, ekonomi, dan tren masyarakat.

Perubahan makna warna ini menjadi salah satu contoh menarik tentang bagaimana fashion tidak hanya berkaitan dengan pakaian, tetapi juga mencerminkan nilai sosial yang berkembang dalam suatu era. Apa yang dianggap maskulin atau feminin ternyata tidak selalu bersifat tetap. Sebaliknya, persepsi tersebut dapat berubah secara signifikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Lalu, bagaimana warna pink bisa berubah dari simbol yang pernah diasosiasikan dengan laki-laki menjadi warna yang identik dengan perempuan? Dan apa yang dapat kita pelajari dari perubahan tersebut mengenai hubungan antara gender dan fashion? Berikut ulasan lengkapnya.

Warna dan Gender Tidak Selalu Memiliki Hubungan Tetap

Salah satu kesalahpahaman yang cukup umum adalah anggapan bahwa warna tertentu secara alami cocok untuk jenis kelamin tertentu.

Padahal, berbagai penelitian sejarah menunjukkan bahwa asosiasi antara warna dan gender sangat dipengaruhi oleh faktor budaya dan sosial. Apa yang dianggap feminin di satu periode sejarah belum tentu memiliki makna yang sama pada periode lain.

Dalam konteks ini, warna pink dan biru merupakan contoh yang sangat menarik. Hubungan keduanya dengan gender ternyata jauh lebih baru dibandingkan yang banyak orang bayangkan.

Fakta ini menunjukkan bahwa makna warna sebenarnya dibentuk oleh masyarakat, bukan oleh sifat warna itu sendiri.

Baca juga:   Gaya Fashion Wanita Pria pada Masa Pascaperang Tahun 1950

Pada Masa Lalu, Bayi Sering Mengenakan Pakaian Putih

Sebelum pembagian warna berdasarkan gender menjadi populer, bayi laki-laki maupun perempuan umumnya mengenakan pakaian berwarna putih.

Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, pakaian bayi sering dibuat berwarna putih karena alasan praktis. Warna putih lebih mudah dibersihkan menggunakan pemutih dan lebih sederhana dalam proses perawatannya.

Selain itu, bayi biasanya mengenakan gaun panjang tanpa terlalu memperhatikan perbedaan gender dalam berpakaian. Pada masa tersebut, warna bukanlah penanda utama untuk membedakan anak laki-laki dan perempuan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa konsep warna berdasarkan gender belum menjadi norma yang kuat pada masa itu.

Ketika Pink Dianggap Lebih Cocok untuk Laki-Laki

Pada awal abad ke-20, beberapa sumber sejarah menunjukkan bahwa warna pink justru sering direkomendasikan untuk anak laki-laki.

Alasannya cukup menarik. Pink dianggap sebagai turunan dari warna merah, yang selama berabad-abad diasosiasikan dengan kekuatan, keberanian, energi, dan militerisme. Karena merah sering dianggap sebagai warna yang kuat dan maskulin, pink yang merupakan versi lebih lembut dari merah juga dianggap cocok untuk anak laki-laki.

Sementara itu, biru sering dikaitkan dengan kelembutan, ketenangan, dan kemurnian. Dalam beberapa tradisi Barat, warna biru juga memiliki hubungan simbolis dengan figur keagamaan perempuan sehingga lebih sering diasosiasikan dengan anak perempuan.

Dengan kata lain, pembagian warna pada masa itu hampir berlawanan dengan yang kita kenal sekarang.

Tidak Ada Standar yang Konsisten

Menariknya, meskipun pink sering dikaitkan dengan laki-laki dalam beberapa konteks, tidak ada aturan universal yang berlaku secara konsisten.

Pada awal abad ke-20, berbagai toko dan produsen pakaian memiliki rekomendasi yang berbeda-beda mengenai warna untuk anak laki-laki dan perempuan. Beberapa merek menyarankan pink untuk laki-laki dan biru untuk perempuan, sementara yang lain justru menerapkan kebalikannya.

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat saat itu belum memiliki kesepakatan yang kuat mengenai hubungan antara warna dan gender.

Asosiasi warna masih bersifat fleksibel dan terus berkembang mengikuti tren yang berubah.

Perubahan Besar pada Pertengahan Abad ke-20

Hubungan antara pink dan perempuan mulai menguat pada pertengahan abad ke-20, terutama setelah Perang Dunia II.

Pada periode ini, industri fashion, periklanan, dan pemasaran berkembang pesat. Berbagai perusahaan mulai mencari cara untuk menciptakan segmentasi pasar yang lebih jelas, termasuk melalui penggunaan warna yang berbeda untuk laki-laki dan perempuan.

Secara bertahap, pink mulai dipromosikan sebagai warna feminin yang lembut, romantis, dan anggun. Sementara itu, biru diposisikan sebagai warna yang kuat, stabil, dan maskulin.

Baca juga:   Gaya Grunge 90-an: Dari Aliran Musik Sampai Style Ikonik

Melalui iklan, media, dan produk konsumen, asosiasi ini semakin tertanam dalam budaya populer.

Peran Industri Pemasaran dalam Membentuk Persepsi

Salah satu faktor terbesar di balik perubahan makna warna adalah strategi pemasaran.

Dengan membedakan produk berdasarkan gender, perusahaan dapat menciptakan pasar yang lebih luas. Orang tua didorong untuk membeli barang yang berbeda untuk anak laki-laki dan perempuan, mulai dari pakaian hingga mainan.

Pembagian warna menjadi salah satu cara yang paling efektif untuk memperjelas segmentasi tersebut. Seiring waktu, masyarakat mulai menerima pembagian ini sebagai sesuatu yang normal, meskipun sebenarnya merupakan hasil konstruksi sosial dan strategi bisnis.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana industri dapat memengaruhi persepsi budaya dalam jangka panjang.

Pengaruh Tokoh Publik dan Budaya Populer

Budaya populer juga berperan besar dalam memperkuat hubungan antara warna pink dan perempuan.

Film, televisi, majalah, hingga berbagai figur publik sering menampilkan perempuan dalam warna pink sebagai simbol feminitas. Karakter-karakter populer dalam budaya modern turut memperkuat asosiasi ini melalui pakaian, aksesori, dan identitas visual mereka.

Semakin sering masyarakat melihat representasi tersebut, semakin kuat pula hubungan antara pink dan perempuan dalam imajinasi kolektif.

Lambat laun, hubungan tersebut terasa begitu alami meskipun sebenarnya merupakan hasil proses budaya yang relatif baru.

Fashion dan Gender yang Terus Berubah

Sejarah warna pink menunjukkan bahwa konsep gender dalam fashion sebenarnya sangat dinamis.

Apa yang dianggap maskulin atau feminin tidak selalu bersifat permanen. Banyak elemen fashion yang pernah mengalami perubahan makna seiring berjalannya waktu, termasuk warna, model pakaian, hingga aksesori.

Misalnya, sepatu hak tinggi awalnya digunakan oleh laki-laki bangsawan di Eropa. Rok dan tunik juga pernah menjadi bagian dari pakaian laki-laki di berbagai budaya.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa norma fashion sering kali lebih fleksibel daripada yang dibayangkan banyak orang.

Kebangkitan Fashion Tanpa Batas Gender

Dalam beberapa tahun terakhir, industri fashion mulai kembali mempertanyakan batasan tradisional mengenai gender.

Banyak desainer dan merek memperkenalkan koleksi yang lebih inklusif dan tidak terlalu bergantung pada kategori maskulin atau feminin yang kaku. Warna pink kini semakin sering digunakan dalam koleksi pakaian laki-laki tanpa dianggap sebagai sesuatu yang tidak biasa.

Perubahan ini mencerminkan meningkatnya kesadaran bahwa warna pada dasarnya tidak memiliki jenis kelamin.

Fashion modern semakin menekankan ekspresi diri dibandingkan kepatuhan terhadap aturan gender tradisional.

Mengapa Sejarah Ini Penting untuk Dipahami?

Memahami sejarah warna pink membantu kita melihat bahwa banyak hal yang dianggap "alami" sebenarnya merupakan hasil konstruksi sosial.

Kesadaran ini dapat membantu masyarakat menjadi lebih terbuka terhadap keberagaman ekspresi diri dan mengurangi stereotip yang tidak perlu. Ketika kita memahami bahwa makna warna dapat berubah dari waktu ke waktu, kita juga menyadari bahwa identitas dan preferensi individu tidak harus dibatasi oleh norma yang diciptakan oleh masyarakat.

Baca juga:   Sejarah Babydoll: Sebuah Baju Tidur Tanpa Lengan

Dalam konteks fashion, hal ini membuka ruang yang lebih luas bagi kreativitas dan kebebasan berekspresi.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Perjalanan Warna Pink?

Perjalanan warna pink dari simbol yang pernah diasosiasikan dengan laki-laki hingga menjadi warna yang identik dengan perempuan menunjukkan bahwa fashion selalu dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya.

Warna tidak memiliki makna tetap yang melekat secara alami. Sebaliknya, makna tersebut dibentuk melalui interaksi antara sejarah, media, industri, dan masyarakat.

Fakta bahwa persepsi terhadap warna dapat berubah begitu drastis dalam waktu relatif singkat menjadi pengingat bahwa banyak norma dalam fashion sebenarnya bersifat dinamis dan dapat terus berkembang.

Pink di Era Modern

Saat ini, warna pink mengalami transformasi makna yang semakin beragam.

Bagi sebagian orang, pink tetap menjadi simbol feminitas. Namun bagi yang lain, warna ini dapat melambangkan kreativitas, keberanian, individualitas, atau bahkan pemberontakan terhadap norma tradisional. Kehadiran warna pink dalam berbagai koleksi fashion pria, pakaian unisex, hingga streetwear menunjukkan bahwa batasan lama mulai semakin kabur.

Fenomena ini menandakan bahwa warna kembali dipandang sebagai sarana ekspresi pribadi, bukan sekadar simbol gender tertentu.

Banyak orang mungkin terkejut mengetahui bahwa warna pink pernah dianggap lebih cocok untuk laki-laki daripada perempuan. Pada awal abad ke-20, pink sering diasosiasikan dengan kekuatan karena hubungannya dengan warna merah, sementara biru justru dianggap lebih sesuai untuk perempuan. Namun seiring berkembangnya industri pemasaran, budaya populer, dan tren sosial, makna kedua warna tersebut berubah secara signifikan.

Sejarah ini menunjukkan bahwa hubungan antara warna dan gender bukanlah sesuatu yang alami atau permanen, melainkan hasil konstruksi budaya yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Perjalanan warna pink menjadi bukti bahwa fashion selalu mencerminkan perubahan nilai dan norma dalam masyarakat.

Pada akhirnya, memahami sejarah gender dalam fashion membantu kita melihat bahwa warna hanyalah warna. Yang terpenting bukanlah apakah suatu warna dianggap maskulin atau feminin, melainkan bagaimana seseorang memilih menggunakannya sebagai bagian dari identitas dan ekspresi dirinya sendiri.

With Laruna, you can stay ahead of the curve by embracing the latest fashion trends that define the season. Elevate your wardrobe with our curated style updates and ensure you're always dressed for the moment.

Reference: 
https://edition.cnn.com/2018/01/12/health/colorscope-pink-boy-girl-gender
https://www.gq.com/story/pink-shirts-men
Be a Contributor and 
Write for Us
Tell me more
Copyright © 2023 - Style by Laruna - All rights reserved
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram