Secara global, sebanyak 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan setiap harinya mengutip dari laporan BBC. Jumlah ini terus mengalami pertumbuhan setiap tahun karena jumlah penduduk dan pengguna pakaian juga turut bertambah. Selain dari segi sampah, industri fashion juga kerap menyumbangkan dampak negatif bagi lingkungan karena menjadi kontributor emisi karbon terbesar ke dunia.
Semakin gentingnya permasalahan lingkungan dan fashion membuat berbagai solusi ditawarkan untuk menanganinya. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah dengan melakukan pemanfaatan kembali barang-barang yang tidak terpakai dengan cara trashion (trash fashion).
Istilah trashion merujuk pada aktivitas yang memanfaatkan kembali seni, dekorasi, objek, atau seni yang tidak terpakai untuk dikreasikan menjadi barang baru. Praktik trashion sendiri dapat dilakukan dengan mendaur ulang pakaian (recycle) atau mengalihfungsikan pakaian lama menjadi barang yang bermanfaat (upcycling).
Proses ekstraksi bahan baku untuk kemudian diproduksi menjadi pakaian membutuhkan banyak energi dan sumber daya air. Selain rentan memakan banyak energi pada prosesnya, penggunaan bahan baku yang tidak ramah lingkungan juga berpotensi untuk menyebabkan pencemaran lingkungan dan menyumbang emisi karbon dalam jumlah banyak. Dengan memanfaatkan bahan bekas, desainer bisa menghemat lebih banyak energi dan biaya untuk memproduksinya menjadi pakaian jadi.
Fashion daur ulang membantu mengurangi jumlah keseluruhan limbah yang masuk ke TPA atau insinerasi. Dalam praktiknya, trashion menggunakan limbah industri fashion seperti pakaian yang kita buang, tetapi bisa juga menggunakan limbah industri lain (salah satu contohnya adalah industri makanan). Melalui konsep daur ulang dapat membantu mengurangi jejak emisi sampah secara keseluruhan.
Semakin maraknya trashion dalam industri fashion membantu membangun kesadaran tentang hubungan fashion dan limbah yang berkaitan erat. Trashion juga bisa menjadi sarana untuk menyuarakan isu penting seperti perubahan iklim kepada publik dengan fashion activism. Selain membangun kesadaran tentang isu lingkungan, trashion juga menciptakan banyak inovasi terbaru dalam desain fashion seperti Econyl and Piñatex®.
Kamu bisa mempraktikkan desain trashion di kehidupan sehari-hari dengan mulai memperhatikan sampah atau barang bekas yang ada di sekitar kita. Hal ini ditunjukkan oleh seorang content creator @wiralagabae atau yang bernama lengkap Wira Laga Bachtiar yang sering membuat konten fashion daur ulang dari sampah atau barang bekas yang dimiliki olehnya. Beberapa karya spektakulernya antara lain tas yang terbuat dari bungkus Indomie, cup holder dari dasri, hingga shoulder bag yang terbuat dari t-shirt bekas.
Selain dijadikan sebagai inspirasi desain yang bisa dipakai sehari-hari, trashion juga telah banyak menarik perhatian komunitas desainer untuk dijadikan sebagai karya yang dipamerkan dalam ajang fashion show. Sebagai contoh, di Nigeria terdapat trashion fashion show yang diinisiasikan oleh The Green Fingers Wildlife Conservative Initiative yang bertujuan untuk mempromosikan desain pakaian berkelanjutan sebagai upaya untuk mengurangi sampah tekstil. Peragaan yang dilakukan pada tahun 2022 silam menyorot karya desainer dari berbagai kalangan untuk mendaur ulang pakaian yang bersumber dari sampah plastik hingga kertas menjadi pakaian unik yang memiliki nilai estetika.
With Laruna, you can combine your love for fashion and the planet by choosing sustainable options that fit your style and contribute to positive changes. Want to join Laruna as a content contributor? We'd love to spend time with you!