
Dunia mode kembali dibuat terkejut oleh langkah tak terduga dari rumah mode mewah asal Prancis, Hermès. Bukan tas Birkin atau sepatu ikonis yang menjadi perbincangan, melainkan sebuah plester luka, ya, plester, yang dijual dengan harga 145 euro atau setara sekitar Rp3,2 juta. Produk ini sontak viral di media sosial dan memicu perdebatan panjang: apakah ini sekadar gimmick, simbol eksklusivitas, atau justru bentuk baru dari fashion statement di era kontemporer?
Untuk memahami fenomena ini secara utuh, kita perlu melihatnya tidak hanya dari sisi harga, tetapi juga dari konteks desain, filosofi brand, hingga perubahan cara kita memaknai fashion dan fungsi sebuah objek sehari-hari.
Plester yang dirilis Hermès ini bukanlah plester medis seperti yang biasa kita gunakan untuk menutup luka. Produk ini secara resmi disebut sebagai Band-Aid accessory dan merupakan bagian dari lini Petit h, sebuah divisi khusus Hermès yang dikenal mengolah sisa material berkualitas tinggi menjadi produk-produk unik dengan pendekatan berkelanjutan.
Dalam satu set, terdapat tiga plester yang dapat dilepas dan digunakan kembali. Masing-masing plester dibuat dari lambskin atau sheepskin, material kulit premium yang selama ini menjadi ciri khas Hermès. Teksturnya lembut, fleksibel, dan memiliki kesan mewah. Secara visual, bentuknya menyerupai plester klasik lengkap dengan detail lubang kecil di kedua ujungnya, namun di bagian tengah terdapat logo “h” khas Hermès yang langsung menandakan identitas brand.
Dengan ukuran sekitar 9,9 x 2,4 sentimeter, plester ini hadir tanpa opsi pemilihan warna. Warna akan diberikan secara acak, sebuah keputusan yang juga mempertegas unsur kejutan dan eksklusivitas dalam pengalaman membeli produk Petit h.
Salah satu hal yang paling memancing rasa penasaran publik adalah fungsi dari plester ini. Hermès secara tegas menyatakan bahwa produk tersebut bukan plester medis dan tidak ditujukan untuk menutup luka pada tubuh. Lalu, apa kegunaannya?
Plester Hermès dirancang sebagai aksesori dekoratif multifungsi. Beberapa kegunaan yang disarankan oleh brand antara lain:
Dengan kata lain, plester ini berfungsi sebagai simbol “perbaikan” yang estetis, sebuah objek yang tidak hanya menutup kekurangan, tetapi justru menonjolkannya sebagai bagian dari cerita dan gaya.

Untuk memahami mengapa Hermès bisa menjual plester seharga jutaan rupiah, kita perlu melihat filosofi di balik Petit h. Lini ini lahir dari gagasan untuk memanfaatkan sisa-sisa material produksi Hermès, kulit, sutra, logam, yang masih berkualitas tinggi namun tidak terpakai. Alih-alih dibuang, material tersebut diolah kembali menjadi objek baru yang sering kali tidak terduga.
Petit h tidak mengikuti logika produksi massal atau fungsi konvensional. Setiap produk adalah hasil eksperimen kreatif, sering kali tanpa kategori jelas: bukan sepenuhnya aksesori, bukan pula sekadar dekorasi. Plester ini, misalnya, merepresentasikan ide tentang repair, durability, dan keberlanjutan, sejalan dengan narasi Hermès tentang benda-benda yang dibuat untuk bertahan lama dan dirawat, bukan diganti.
Dalam pernyataan resminya, Hermès menyebut plester ini sebagai undangan untuk “memperbaiki kacamata, menyamarkan cacat, atau menutup tas dengan penuh gaya.” Di sini, tindakan memperbaiki bukan lagi sesuatu yang disembunyikan, melainkan dirayakan.
Temukan artikel fashion terlengkap hanya di Laruna, stay stylish, stay updated!




