Monday, 01 January 2022

Circular Fashion: Ekonomi Sirkular di Industri Fashion

Dalam penerapan Circular Fashion, kita harus melakukan recycle, reuse, dan reduce agar tidak menambah sampah dari industri fashion.
January 10, 2023  | Levina Chrestella Theodora
Circular Fashion
 

Sebagai salah satu kontributor gas emisi yang terbanyak, industri fashion harus memainkan peran penting di jalan menuju keberlanjutan atau circular fashion. Industri fashion mengkonsumsi sejumlah besar sumber daya, menciptakan dampak lingkungan yang negatif dan menghasilkan limbah dalam jumlah besar (Dissanayake & Weerashinghe, 2021).

Walau begitu, tidak akan mungkin bagi dunia untuk meminta industri fashion berhenti berproduksi, atau meminta pecinta fashion untuk melupakan hobinya. Kabar baiknya, industri fashion secara perlahan telah berubah dan berusaha mencari solusi untuk menjadi lebih berkelanjutan. Para konsumen juga sudah mulai menjadi lebih peka terhadap keberlanjutan dengan populernya tren thrifting.

Salah satu solusi yang didorong oleh para aktivis dan sedang perlahan diterapkan oleh berbagai brand fashion adalah circular fashion (fashion sirkular), terinspirasi oleh circular economy (ekonomi sirkular). 

Definisi Ekonomi Sirkular

Ekonomi sirkular merupakan topik yang hot diantara pembahasan mengenai solusi dari krisis iklim. Mengutip United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), ekonomi sirkular adalah cara baru untuk menciptakan nilai (value), dan akhirnya kemakmuran. Bertujuan untuk memperpanjang umur produk melalui peningkatan desain dan servis, dan relokasi limbah dari akhir rantai pasokan ke awal. 

Pada dasarnya, ekonomi sirkular mendorong penggunaan sumber daya secara lebih efisien dengan menggunakannya berulang-ulang, tidak hanya sekali (UNIDO, 2017). UNIDO juga menyinggung konsep Jepang, “mottainai,” dimana sangat disayangkan jika sesuatu terbuang sia-sia tanpa memanfaatkan potensinya secara penuh– sesuatu yang terjadi dalam ekonomi linier.

circular fashion
Buy less, choose well, make it last. (Sumber: Unsplash/Edward Howell)

Tiga strategi utama untuk mencapai ekonomi sirkular didefinisikan sebagai memperlambat (slowing) (memperlambat penggunaan sumber daya), mempersempit (narrowing) (menggunakan lebih sedikit sumber daya) dan menutup lingkaran sumber daya (close the resource loops) (menutup loop antara pasca-penggunaan dan produksi) (Bocken et al., 2015).

Baca juga:   Peran Media Sosial Dalam Keberlanjutan Fashion

Konsep ekonomi sirkular sudah diadaptasi oleh berbagai negara, termasuk China yang dikenal dengan produksi masifnya. Mereka mengadopsi konsep Circular Economy dalam dua 'Rencana Lima Tahun' terakhir yang disusun oleh pemerintah China. China memahami bahwa sangat penting untuk mengubah arah dalam penggunaan bahan baku, sumber energi, dan proses industri yang menghasilkan limbah berlebihan (Valavanidis, 2018).

Fashion Sirkular, bagaimana konsepnya?

Konsep fashion sirkular sama seperti ekonomi sirkular, hanya diterapkan oleh hal-hal yang berkaitan dengan fashion. Kita harus memastikan bahwa produk fashion digunakan lebih dari sekali. Konsep circular fashion pertama kali digunakan pada tahun 2014 oleh Anna Brismar, pemilik perusahaan konsultan Green Strategy (Lappi, 2021).

Anna sendiri mendefinisikan fashion sirkular sebagai pakaian, sepatu atau aksesori yang dirancang, diambil, diproduksi, dan disediakan dengan maksud untuk digunakan dan diedarkan secara bertanggung jawab dan efektif di masyarakat selama mungkin dalam bentuknya yang paling berharga, dan selanjutnya kembali dengan selamat ke biosfer ketika tidak lagi digunakan manusia (Brismar, Green Strategy, 2017).

Membaca konsep ini, mungkin “upcycling” muncul dibenak kalian. Mengutip Aus et al., (2021), upcycling umumnya dipahami sebagai pendekatan fashion sirkuler berbasis desain, dimana bahan limbah tekstil sebelum atau sesudah konsumen digunakan kembali untuk membuat pakaian baru. Intinya, upcycling merupakan salah satu cara menerapkan fashion sirkuler. 

Terdapat beberapa poin inti dari konsep fashion sirkular menurut Ellen Macarthur Foundation (2020) yaitu used more, made to be made again, made from safe and recycled or renewable inputs, dan transparency and traceability

circular fashion
Less CO2. (Sumber: Unsplash/cheriebirkner)

Used more 

Produk dan bahan harus dapat digunakan terus-menerus. Reuse mengacu pada penggunaan sebuah pakaian berulang kali, baik oleh pengguna tunggal atau oleh banyak pengguna. Reuse bertujuan meningkatkan berapa kali rata-rata sebuah pakaian digunakan dan disimpan untuk digunakan selama mungkin. Oleh karena itu, produk dan bahan harus kuat (durable), dapat digunakan berulang kali (reusable), dan dapat diperbaiki (repair).

Baca juga:   8 Bahan Ramah Lingkungan dalam Produksi Sepatu

Made to be made again

Sejalan dengan tujuan reusable, proses produksi harus memastikan bahwa bahan-bahan yang digunakan menggunakan prinsip desain yang memungkinkan produk dibongkar. Hal ini memungkinkan komponen dan material digunakan kembali, dibuat ulang, atau didaur ulang. 

Bahan yang digunakan sebanyak mungkin dari bahan daur ulang dan regeneratif. Regeneratif berarti bahan bersumber dari tanah pertanian yang organik, ramah lingkungan, memberdayakan petani, dan disaat yang sama memperbaiki ekosistem alam. 

Jika produk tidak dapat digunakan ulang lagi, produsen juga harus memastikan bahwa bahan produk compostable (dapat dikompos) dan tidak beracun.

Made from safe and recycled or renewable inputs 

Dalam ekonomi sirkular, zat yang berbahaya bagi kesehatan atau lingkungan tidak boleh digunakan untuk memastikan bahwa tidak ada polutan yang dilepaskan ke lingkungan. Selain itu, produk menggunakan bahan daur ulang dan terbarukan agar mengurangi limbah.

Transparency and traceability 

Materi dan bahan yang digunakan untuk produksi harus transparan dan dapat dilacak (transparent and traceable) seperti pada spesifikasi produk, input kimia, bahan yang digunakan, dan praktik produksi. Informasi ini penting untuk diinformasikan terutama untuk after-use practice seperti: pemilahan, pembuatan ulang, dan daur ulang.

Selengkapnya mengenai konsep ekonomi sirkular di dunia fashion menurut laporan Ellen Macarthur Foundation (2020) dapat dibaca di sini.

Konklusi

Dengan sumber daya alam yang berkurang dan keadaan lingkungan yang memburuk, industri fashion harus berubah dan menjadi lebih berkelanjutan. Berbagai peneliti dan studi telah mengungkapkan bagaimana mengimplementasi konsep circular fashion dapat menjadi solusi bagi para brand untuk mengurangi jejak karbon tapi juga meningkatkan keadaan bumi. 

Intinya, produk yang dibuat harus dapat didaur ulang, dipakai berulang kali, dikompos, dan proses produksi yang transparan juga dapat dilacak. Industri fashion tidak dapat bergerak sendirian, konsumen juga harus diedukasi mengenai konsep keberlanjutan dan fashion sirkular. Tujuannya adalah agar mereka selalu peka dan memiliki inisiatif untuk hanya membeli produk dari brand yang mengadopsi circular fashion.


With Laruna, you can combine your love for fashion and the planet by choosing sustainable options that fit your style and contribute to positive changes. Want to join Laruna as a content contributor? We'd love to spend time with you!

Baca juga:   Metawashing di Industri Mode
Reference: 
https://emf.thirdlight.com/link/nbwff6ugh01m-y15u3p/@/preview/1?o (Diakses pada: 28 Oktober 2022).

https://www.medvetenkonsumtion.se/wp-content/uploads/2022/03/Towards-Circular-Economy-in-Fashion.pdf (Diakses pada: 28 Oktober 2022).

https://www.unido.org/sites/default/files/2017-07/Circular_Economy_UNIDO_0.pdf (Diakses pada: 28 Oktober 2022).

https://www.researchgate.net/publication/326625684_Concept_and_Practice_of_the_Circular_Economy (Diakses pada: 28 Oktober 2022).

https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/21681015.2016.1172124 (Diakses pada: 28 Oktober 2022).

https://greenstrategy.se/circular-fashion-definition/ (Diakses pada: 28 Oktober 2022).
Copyright © 2023 - Style by Laruna - All rights reserved
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram