Kenapa Linen? Ini Kelebihan dan Kekurangan Bahan Linen - Penggemar fashion berbahan linen wajib tahu ternyata kain mewah ini salah satu mudah terurai loh. Belakangan tren bahan linen semakin dipilih banyak kalangan terutama Milenial dan Gen Z. Selain karena ragam style-nya, jenis ini paling cocok digunakan di iklim tropis seperti di Indonesia.
Bahan linen menjadi yang paling mudah terurai secara hayati, bahannya kuat, cepat kering, dan tahan ngengat. Terutama pada linen yang terbuat dari tanaman rami dan tidak menggunakan pewarna pakaian.
Namun, apakah semua linen bisa menjadi pilihan untuk menerapkan sustainable fashion? Yuk, mari cari tahu kelebihan dan kekurangan dari bahan linen.
Linen ialah kain yang terbuat dari tanaman rami, bahan ini berwarna alami gading, ecru, coklat, hingga abu-abu. Keunggulan yang membuat banyak penggemarnya mencintai bahan ini karena bahannya terbilang kuat, mudah kering dan tidak mudah rusak.
Bahan satu ini paling direkomendasikan digunakan di daerah bersuhu tinggi seperti tropis. Alasannya, karena dapat menyerap keringat tanpa menahan bakteri. Menariknya, semakin linen sering dicuci, maka bahannya akan semakin lembut dan lentur.
Tidak banyak yang tahu, ternyata serat ini ialah yang paling tertua diperkirakan berusia 36.000 tahun. Dalam budaya Eropa, ada tradisi mewariskan kain sebagai pusaka. Kekuatannya yang lebih baik ketimbang bahan katun, membuat linen yang dirawat dengan baik dapat bertahan hingga 3 dekade bahkan lebih.
Sementara orang Mesir menggunakannya sebagai mata uang dan bagian dari proses mumifikasi. Bahkan, digunakan juga untuk pembuatan baju perang yang disebut Linothorax.
Linen dimanfaatkan karena kekokohannya mulai dari pembuatan taplak meja, seprai, tirai, serta bahan lainnya. Bahan ini juga telah digunakan sebagai kanvas untuk lukisan khusus cat minyak. Selain itu, menjadi penutup pilihan para pengrajin roti serta bahan tambahan pembuatan dolar Amerika.
Saat ini, sebagian besar bahan tersebut diproduksi di Tiongkok untuk pakaian sedangkan di AS untuk peralatan rumah tangga. Namun, menurut ahli kain mengungkapkan jika produksi produk kain linen paling berkualitas tinggi masih menjadi bagian dari negara Eropa, Irlandia, Italia dan Belgia.
Kain satu ini terbuat dari serat batang dari tanaman rami (Linum usitatissimum). Jenis tanaman tersebut dapat tumbuh di berbagai kondisi iklim. Namun, mulanya berasal dari daerah Mediterania.
Seorang ahli mengatakan, tanaman ini harus melewati sembilan tahap, mulai dari penanaman sampai pengeringan, berikut tahapannya :
Kemudian, akhirnya menjadi benang yang berubah menjadi sehelai kain. Proses lama yang melelahkan membuat kain linen asli berharga lebih mahal.
Tentunya, seperti bahan lainnya, produksi kain ini memiliki sisi baik dan buruk bagi pekerja dan lingkungan. Namun, ada beberapa poin penting yang dapat menjadi pertimbangan ketika memutuskan membelinya.
Lalu, mengapa harganya bisa sangat mahal? Ini disebabkan karena lamanya waktu produksi benang linen. Produksinya dilakukan secara manual menyebabkan komoditas ini dihargai lebih tinggi hingga dianggap sebagai kain mewah.
Kekurangan yang dianggap memprihatinkan oleh para ahli bagi lingkungan dan populasi manusia terjadi pada proses pembuangan limbah dan bahan kimia. Umumnya, pembuatannya menggunakan alkali atau asam oksalat yang beracun dalam konsentrasi yang rendah.
Masalah ini dapat dihindari sepenuhnya, apabila produsen memilih untuk melakukan water retting. Proses tersebut bagian dari fitur umum pada linen organik bersertifikat. Sayangnya, proses ini membutuhkan biaya lebih, sehingga dapat mempengaruhi harga pakaian organiknya.
Sifat serat kainnya padat, sehingga untuk mendapatkan linen berwarna putih bersih harus melalui proses pemutihan yang berat. Warna alami yang dihasilkan memastikan pakaian dari kain ini lebih ramah lingkungan di kemudian hari. Pewarna kain dapat menjadi masalah, jika membeli linen non-organik, maka tidak ada jaminan kain tersebut tidak ada pewarna berbahaya yang digunakan.
Sementara untuk menanam tanaman rami secara teknis tidak banyak menggunakan pestisida. Namun, sebagian besar rami non-organik menggunakan nitrat. Zat ini dapat masuk ke aliran air dan merusak ekosistem.
Meskipun begitu, jumlah pestisida yang digunakan biasanya lebih sedikit dibandingkan tanaman lain. Berbeda dengan produk linen yang bersertifikat organik, mereka menggunakan Standar Tekstil Organik Global.
Mungkin linen tergolong ramah lingkungan, tetapi kerja paksa dan upah rendah masih menjadi masalah umum jutaan pekerja garmen di seluruh dunia.
Bahan linen mudah kusut. Kerutan yang terjadi terus-menerus di area yang sama dapat menyebabkan bahan robek dan warnanya memudar.
Sebagai kain mewah, linen juga biasanya lebih mahal dibandingkan kain sejenis seperti katun. Hal ini setimpal dengan kualitasnya yang tinggi dan tahan lama.
Apabila kamu ingin berinvestasi pada bahan linen terbaik dan berdampak rendah, lebih baik mencari brand dengan sertifikasi organik. Merek tersebut umumnya memperhatikan produk dari keseluruhan prosesnya, mulai dari penanaman rami hingga akhirnya diolah menjadi kain.
Walaupun kualitasnya tingkat tinggi, kamu juga tetap harus mempelajari cara merawat linen agar dapat digunakan secara maksimal dan tidak cepat rusak.
Secara garis besar, jenis tekstil ini tergolong tahan lama, dapat dibuat lebih ramah lingkungan dibandingkan kebanyakan bahan lainnya. Linen adalah salah satu tekstil yang paling tidak merusak lingkungan.
Kain alami tersebut dapat terurai secara hayati, artinya molekul penyusunnya diserap kembali ke lingkungan sekitar hanya dalam hitungan tahun. Selain itu, serat alami tidak berkontribusi pada krisis polusi mikroplastik yang berlangsung di hidrosfer, hingga mengancam kehidupan perairan dan manusia.