Monday, 01 January 2022

Larangan Fashion Saat Imlek : Warna & Model Baju yang Sebaiknya Dihindari

In the tapestry of Lunar New Year, red is the thread of joy and gold is the shimmer of prosperity. Wear your luck, and let the celebration begin.
February 9, 2026  | Pipintri Aviteni Damayanti
larangan warna baju imlek
 

Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan warna-warna cerah, suasana hangat, dan doa untuk keberuntungan di tahun yang baru. Setelah mengenal makna warna Imlek dan bagaimana memadukannya secara stylish dalam keseharian, kini saatnya melihat sisi sebaliknya. 

Di balik busana yang tampak modis dan netral, terdapat simbol-simbol yang membuat beberapa pilihan dianggap kurang tepat jika dikenakan saat hari perayaan. Bagi masyarakat Tionghoa, busana bukan sekadar soal estetika. Sebab, beberapa warna, potongan, hingga detail kecil diyakini membawa makna tersendiri. 

Apa yang dikenakan di hari pertama tahun baru dipercaya merepresentasikan harapan yang ingin dibawa sepanjang tahun. Oleh karena itu, memahami pantangan fashion saat Imlek menjadi bagian dari cara menghormati tradisi, tanpa harus mengorbankan gaya personal.

Kenapa ada pantangan fashion saat Imlek?

Dalam budaya Tionghoa, Imlek bukan hanya pergantian kalender, melainkan momen spiritual yang sarat akan doa dan simbol. Segala sesuatu yang menyertai perayaan, mulai dari makanan, dekorasi, hingga pakaian, semuanya dipilih dengan penuh makna.

Konsep keseimbangan yin dan yang menjadi salah satu dasar dari tradisi ini. Warna cerah, potongan rapi, dan detail yang utuh melambangkan energi yang aktif, hangat, dan penuh kehidupan. Sebaliknya, warna gelap, bentuk rusak, atau simbol kelam diasosiasikan dengan energi yin yang pasif dan dingin.

Karena alasan itulah, pantangan dalam fashion bukanlah aturan kaku, melainkan bentuk kesadaran simbolik. Busana menjadi “doa visual” tentang kelancaran rezeki, kebahagiaan, serta hubungan yang harmonis di tahun yang baru.

Baca juga:   Segmen Utama Industri Fashion

Warna yang sebaiknya dihindari saat Imlek

Pada perayaan Imlek yang identik dengan harapan baru, keberuntungan, dan kebahagiaan, warna tertentu dianggap memiliki energi yang berlawanan. 

Sebab, warna bukan sekadar elemen visual, tetapi simbol yang diyakini membawa makna emosional dan spiritual. Jadi, meskipun terlihat netral atau stylish, beberapa warna di bawah ini sebaiknya dihindari khusus pada hari perayaan.

1. Hitam

Hitam sering dikaitkan dengan duka, kehilangan, dan akhir dari sesuatu. Dalam konteks Imlek, warna ini dianggap membawa energi “berat” yang kurang selaras dengan semangat awal tahun. Meskipun populer karena kesannya elegan, serba hitam saat Imlek bisa dimaknai sebagai simbol kesialan.

2. Putih

Berbeda dengan budaya Barat, putih dalam tradisi Tionghoa identik dengan pemakaman dan masa berkabung. Warna ini melambangkan perpisahan dan kesedihan, sehingga kurang dianjurkan sebagai warna utama busana saat Imlek.

4. Abu-abu

Sebagai warna diantara hitam dan putih, abu-abu sering dimaknai sebagai ketidakpastian, kesuraman, dan stagnasi. Pada momen yang menandai awal yang baru, warna ini dianggap kurang membawa energi positif.

5. Biru tua gelap 

Biru tua sering diasosiasikan dengan kesedihan, jarak emosional, dan suasana dingin. Dalam beberapa kepercayaan, warna ini dianggap terlalu “yin” dan kurang merepresentasikan keceriaan yang menjadi esensi Imlek.

Perlu diketahui bahwa warna-warna ini tidak bersifat tabu mutlak. Dalam keseharian tetap boleh dikenakan, namun khusus pada hari Imlek, sebaiknya diminimalkan atau dipadukan dengan warna cerah sebagai penyeimbang.

Model & detail busana yang perlu dihindari

Selain warna, bentuk dan detail busana juga memiliki makna simbolik dalam budaya Tionghoa. Saat Imlek, pakaian dipandang sebagai representasi harapan di tahun yang baru, sehingga model tertentu dianggap kurang selaras dengan energi keberuntungan yang ingin dihadirkan.

Baca juga:   Tips Pakai Athleisure dengan Look Kece di 2025

1. Pakaian sobek atau distressed

Detail sobek atau berlubang melambangkan kekurangan dan rezeki yang “bocor”. Dalam simbolisme Imlek, ini dianggap kurang baik karena seolah merepresentasikan kesulitan di tahun yang baru.

2. Motif kematian atau simbol kelam

Tengkorak, simbol horor, atau gambar yang berhubungan soal kematian bertentangan dengan makna panjang umur dan kebahagiaan, yang menjadi doa utama saat Imlek.

3. Outfit serba gelap tanpa aksen cerah

Busana gelap dari atas hingga bawah menciptakan kesan “yin” yang dominan. Pada perayaan Imlek yang sarat akan energi “yang”, tampilan ini dianggap kurang seimbang.

4. Busana terlalu terbuka atau terlalu keras

Imlek biasanya dirayakan bersama keluarga lintas generasi. Busana yang terlalu terbuka atau ekstrem dapat dianggap kurang sopan dan tidak selaras dengan suasana kebersamaan.

Kesalahan fashion yang sering tak disadari

Banyak orang merasa sudah “aman” selama tidak mengenakan busana mencolok. Padahal, justru pilihan yang tampak netral dan stylish di keseharian sering menjadi kesalahan simbolik.

  • Terlalu mengandalkan warna netral : seperti hitam, putih, dan abu-abu yang kerap dipilih karena klasik. Namun, tanpa aksen cerah, ketiganya justru bertolak belakang dengan semangat Imlek.
  • Menganggap semua tren selalu aman : memakai jeans robek, detail edgy, atau motif gelap mungkin terlihat modern, tetapi bisa membawa makna yang kurang positif secara simbolik.
  • Fokus pada gaya, tapi lupa makna : keinginan tampil modis seringkali membuat kita lupa bahwa Imlek adalah perayaan yang sarat harapan, bukan sekadar momen untuk bergaya.

Alternatif aman & tetap stylish

Menghindari warna atau model tertentu bukan berarti harus mengorbankan gaya. Jika kamu memiliki busana bernuansa gelap, cukup tambahkan aksen cerah seperti merah, emas, oranye, atau pink melalui aksesori, sepatu, tas, atau detail bordir. Sentuhan kecil ini sudah cukup memberi nuansa keberuntungan tanpa mengubah keseluruhan gaya.

Baca juga:   Sejarah Kebaya: Melihat Perjalanan dan Perkembangannya dari Masa ke Masa di Indonesia

Untuk tampilan yang lebih modern, pilih potongan sederhana dengan warna cerah sebagai statement, lalu seimbangkan dengan elemen netral agar tetap modern dan wearable. Dengan begitu, kamu bisa tampil stylish sekaligus menghormati makna di balik perayaan Imlek.

Penutup

Imlek adalah momen awal tahun yang penuh harapan, doa, dan energi baru. Lewat busana, kita tidak hanya mengekspresikan gaya personal, tetapi juga menyampaikan simbol tentang apa yang ingin kita bawa ke tahun yang baru. Dengan lebih mindful terhadap warna dan model yang dikenakan, kita bisa tampil selaras dengan tradisi, tanpa kehilangan identitas diri. Karena pada akhirnya, fashion terbaik adalah yang terasa indah sekaligus bermakna.

Temukan artikel fashion terlengkap hanya di Laruna, stay stylish, stay updated!

Copyright © 2023 - Style by Laruna - All rights reserved
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram