Monday, 01 January 2022

Psikologi Outfit Repeater: Mengapa Banyak Orang Sukses Memakai Pakaian yang Sama?

Mengulang pakaian bukan tanda kekeringan gaya, melainkan bukti kecerdasan dalam mengelola energi mental untuk hal-hal yang lebih berdampak
August 19, 2026  | Melisa Nirmaladewi
psikologi outfit repeater
 

Steve Jobs dengan turtleneck hitam dan jeans birunya. Mark Zuckerberg dengan kaos abu-abu yang nyaris jadi identitas visualnya sendiri. Kalau kamu berpikir mereka sekadar malas berpakaian, coba pikir ulang, di balik kebiasaan itu, ada alasan psikologis yang cukup mendalam.

Fenomena ini punya penjelasan ilmiah bernama decision fatigue, istilah yang dipopulerkan psikolog Roy Baumeister. Menurut teori ini, setiap keputusan yang kita ambil sepanjang hari menguras energi mental, ibarat baterai yang perlahan habis. Memilih padu padan baju di pagi hari, meski terasa sepele, sebenarnya menjadi beban kognitif tersembunyi yang ikut menguras kapasitas otak untuk berpikir jernih di keputusan-keputusan lain yang lebih penting sepanjang hari.

Dengan mengenakan "seragam" harian atau kombinasi pakaian yang itu-itu saja, seseorang menghemat kuota energi mental yang bisa dialokasikan untuk keputusan strategis yang lebih besar. Inilah alasan mengapa tokoh sukses seperti Jobs dan Zuckerberg konsisten dengan satu gaya, mereka secara sadar mengurangi jumlah keputusan kecil agar bisa fokus pada hal-hal yang benar-benar membutuhkan perhatian penuh.

Namun, alasan psikologis di balik outfit repeating tidak berhenti di soal efisiensi energi semata. Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Counseling Psychology, keaslian diri atau authenticity berkaitan erat dengan kepuasan hidup dan kesejahteraan psikologis seseorang. Orang yang nyaman mengenakan baju yang sama berulang kali sebenarnya sedang mempraktikkan bentuk keaslian diri dalam kehidupan sehari-hari—mereka tidak merasa perlu mengubah penampilan demi validasi orang lain atau tuntutan kesempurnaan di media sosial.

Ada juga dimensi kematangan emosional yang berperan penting di sini. Menahan diri untuk tetap memakai pakaian yang sama, terlebih dengan adanya potensi penilaian negatif dari orang lain, membutuhkan kemampuan mentolerir ketidaknyamanan sosial. Sebuah studi bahkan menemukan bahwa orang yang mendasarkan harga dirinya pada faktor eksternal seperti penampilan justru mengalami lebih banyak stres dan kecemasan dibanding mereka yang sudah melampaui kebutuhan validasi semacam itu.

Baca juga:   4 Jenis Serat Daur Ulang dalam Produksi Fashion

Di sisi lain, ada juga penjelasan yang lebih praktis. Sebagian orang memakai outfit yang sama berulang kali bukan karena kurang pilihan, melainkan karena mereka sudah menemukan gaya yang paling merepresentasikan diri mereka. Setelah melalui proses eksperimen panjang dengan berbagai jenis fashion, mereka akhirnya menemukan kombinasi yang paling sesuai dengan kepribadian, aktivitas, dan karakter diri, dan begitu gaya personal ini terbentuk, mempertahankannya secara konsisten justru terasa lebih masuk akal daripada terus berganti-ganti tanpa arah.

Fenomena ini bahkan bisa menjadi bentuk personal branding tersendiri. Banyak tokoh publik dikenal justru karena outfit khas yang nyaris tidak pernah berubah, alih-alih dianggap membosankan, konsistensi ini justru membuat mereka mudah dikenali dan diingat.

Menariknya, riset dari Journal of Research in Personality juga mengaitkan kebiasaan ini dengan konsep need for closure, yakni kebutuhan tinggi terhadap kepastian. Orang dengan kecenderungan ini biasanya lebih suka mengikuti pola yang sama setiap hari untuk menghindari ketidakpastian, dan cenderung mencari kestabilan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk cara mereka berpakaian.

Tentu, ada juga alasan yang jauh lebih sederhana: kenyamanan fisik. Banyak orang punya satu atau dua pakaian favorit yang sudah "kenal" dengan tubuh mereka, entah karena potongannya pas, bahannya nyaman, atau justru karena pakaian itu menyimpan kenangan berharga, seperti gaun yang dikenakan saat mendapat pekerjaan impian. Otak kita mengasosiasikan pakaian tersebut dengan pengalaman positif, sehingga secara alami kita terus kembali memilihnya.

Jadi, kalau kamu termasuk orang yang lebih suka memakai kaos dan celana favorit yang itu-itu saja, jangan buru-buru menganggap dirimu kurang kreatif dalam berpakaian. Bisa jadi kamu justru sedang mempraktikkan efisiensi mental ala CEO teknologi kelas dunia, atau lebih sederhana lagi, kamu sudah cukup mengenal dirimu sendiri untuk tahu apa yang benar-benar membuatmu nyaman.

Baca juga:   10 Model Hijab Sporty untuk Berbagai Jenis Olahraga

With Laruna, you can stay ahead of the curve by embracing the latest fashion trends that define the season. Elevate your wardrobe with our curated style updates and ensure you're always dressed for the moment.

Reference: 
https://www.jawapos.com/lifestyle/015676769/orang-yang-sering-memakai-baju-yang-sama-berulang-kali-ternyata-punya-7-ciri-kepribadian-ini-menurut-psikologi
https://www.beautynesia.id/life/3-ciri-kepribadian-orang-yang-sering-pakai-baju-sama-berulang-kali-menurut-ilmu-psikologi/b-316626
Copyright © 2023 - Style by Laruna - All rights reserved
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram