Sustainable Fashion maksudnya adalah kampanye yang mengutamakan komitmen untuk memgurangi hasil limbah fesyen. Limbah ini bisa berupa sisa kain dari produksi pakaian di pabrik berskala kecil dan besar serta pakaian tak terpakai yang kita buang. Masalahnya, sejumlah bahan pakaian terbilang sulit terurai secara alami.
Nah saat ini, konsep fesyen berkelanjutan sekarang sudah banyak diusung dan menjadi komitmen tak hanya bagi desainer luar negeri, namun juga desainer-desainer dalam negeri. Yuk, intip siapa saja desainer dalam negeri yang berkomitmen mengusung konsep sustainable fashion dalam ulasan menarik berikut ini!
Ali Charisma diketahui sebagai salah satu desainer lokal yang berhasil mengembangkan sayapnya di dunia internasional. Pria berusia 49 tahun ini berbagi perjalanan kariernya pada acara "My Story: Looking Deeper Through the Life of Indonesian Fashion Designer" di Live Instagram Indonesian Fashion Chamber.
Awalnya ketika masa sebelum krisis moneter, Ali merupakan seorang karyawan di sebuah perusahaan luar negeri di bidang komponen komputer. Pasca krisis moneter 1998, Ali pulang ke kampung halamannya di Bali untuk berkarir dalam bidang tata busana.
Langkah yang diawali Ali ialah dengan cara Ali memutuskan untuk menyewa sebuah butik. Dia melihat peluang besar industri fashion di Bali. Mulanya pergerakan bisnisnya, hanya bermodalkan jualan baju-baju yang dibelinya di luar kota seperti Surabaya atau Pekalongan.
Ali tersadarkan bahwa dia makin minat menggeluti bidang fesyen. Dia pun mulai dari memperhatikan jenis baju yang sering dipakai para turis, menggambar komposisi, membuat sketsa baju, hingga menggambar pola.
Berselang dua tahun kemudian, ia berhasil mendirikan butiknya sendiri di Kuta. Bahkan, ia mendapatkan penawaran untuk tampil di acara Bali Fashion Week.
Saat ini, ia pun telah menduduki posisi sebagai Chairman Indonesia Fashion Chamber (IFC). Ali bersama IFC dan stakeholder terkait terus berupaya memperkenalkan konsep sustainable fashion yang sekaligus menjadi arah industri fashion di 2022.
Dalam konsep sustainable fashion, Ali mengungkan setidaknya ada tiga komponen penting yakni people, planet, dan profit.
Ali dan IFX terus bertekad untuk membangun kesadaran bsustainable fashion ini tidak hanya penting bagi produsen atau pelaku industri, namun juga bagi masyarakat sebagai konsumen.
Asky Febrianti adalah desainer gaun pengantin asli Indonesia. Pesohor dalam negeri sudah banyak yang memakai jasanya untuk dibuatkan gaun pengantin impian. Isyana Sarasvati, Irish Bella dan Raisa Andriana pernah memakai busana rancangan Asky. Di usia muda, Asky sudah membangun bisnis dengan mendirikan clothing line sendiri.
Asky memberikan perhatian khusus pada setiap embroderie dan pemilihan bahan yang dipilih untuk realisasi ciptaannya. Pada desain-desain pakaian atau busana yang dibuatnya ia kerap ingin memberikan warna-warna busana yang netral sehingga konsumennya lebih percaya diri dan akan terus-menerus menggunakan baju yang ia desain. Menurutnya baju yang netral akan selalu menjadi pilihan busana yang disukai (timeless).
Diketahui sejak 2013, Asky berfokus untuk memenuhi kebutuhan mewah dan glamor setiap perempuan yang ingin merasa cantik. Konsep yang diusung adalah fashion itu baik untuk jiwa. ‘Saat kami berpakaian bagus, kami merasa lebih baik’.
Harry Halim dilahirkan di Indonesia dan dibesarkan di Singapura. Harry menempuh pendidikan mode di LaSalle College of The Arts, di Singapura.
Pasca lulus kuliah, ia memberanikan diri untuk mengikuti perlombaan Asian Young Designers. Dalam kompetisi ini, amemenangkan lomba tersebut dengan membawa nama Singapura—sebab sang desainer memiliki status kewarganegaraan PR (Permanent Residency) Singapura. Inilah langkah awal karir Harry. Kesuksesannya pun terus dicapainya, hingga membuat Harry dapat memamerkan karya desain busana rancangannya ke acara Paris Fashion Week.
Terkait kampanye fesyen berkelanjutan, dia berpikir bahwa sustainable fashion itu merupakan kampanye yang baik. Dia mengungkapkan perlahan-lahan banyak merek feseyen yang mulai melakukan kampanye tersebut. Dirinya pun mengaku perlahan-lahan akan berkomitmen dengan kampanye fesyen berkelanjutan, sebab menurutnya itu merupakan contoh yang bagus.
Rizka menjadi salah satu desainer Indonesia yang menampilkan koleksi buatannya di Paris Fashion Week 2019. Lewat merek yang dibangunnya yakni Rashika, ia Rizka menampilkan 8 looks dari koleksinya yang bertajuk 'Tatuka'.
Dalam koleksinya tersebut, Rizka mengaku bahwa ia pun turut berkomitmen untuk mengusung kampanye fesyen berkelanjutan. ingin berkontribusi dengan membuat batik zero waste. Jadi, koleksi yang dipamerkannya pun diakuinya terbuat tanpa pewarna kimia. Semuanya eco-print batik dan dari bahan alami.
Clemence dibangun pada awal 2015 oleh dua perempuan muda Clarissa dan Chrestella Hartawan. Keduanya lulusan sekolah mode internasional LaSalle College yang perusahaan induknya berbasis di Montreal.
Dalam akun instagram resmi Clemence, bio instagram bisnis Clemence mengaku sebagai produk yang mengedepankan produk baju dengan material yang suistanable.
Celine Lukito membangun United Concepts dengan modal nekat. Ikut ke Paris Fashion Week merupakan langkah pertama United Concepts.
Lewat hasil karyanya, Celine mengaku ingin menunjukkan keinginan untuk menyatukan konsep-konsep dari alam semesta yang berbeda, untuk menciptakan keseluruhan yang harmonis dan utopis.
Itulah ulasan 6 desainer lokal yang termotivasi untuk menggaungkan semangat kampanye suistanable fashion atau fesyen berkelanjutan. Semoga ulasan di atas dapat bermanfaat dalam menambah pengetahuan tentang fesyen berkelanjutan.
With Laruna, you can combine your love for fashion and the planet by choosing sustainable options that fit your style and contribute to positive changes. Want to join Laruna as a content contributor? We'd love to spend time with you!