Monday, 01 January 2022

'Fashionology' FPD Universitas Ciputra Hadirkan Koleksi Busana dari Limbah Produksi

Dalam hal ini, tercatat ada 46 mahasiswa dari semester 8 yang berpartisipasi dalamacar Fashionology, untuk memamerkan persembahan tugas akhir yang wajub mereka tempuh.
June 12, 2023  | Anggun Tifani
 

FPD Universitas Ciputra menggelar sebuah Fashion Show bertajuk “Fashionology” yang melibatkan 100 mahasiswa dari semester 4, 6, dan 8 yang  berlangsung di Ciputra World Surabaya pada pada Minggu (4/6/2023). 

'Fashionology' FPD Universitas Ciputra

Penataannya dilakukan dengan elegan dan menampilkan beragam model, mulai dari gaun pesta, pakaian kerja, pakaian siap pakai, pakaian anak-anak, hingga aksesoris.

Selain sebagai ajang pameran karya tugas akhir, diketahui kegiatan ini turut menampilkan karya tugas mata kuliah Commercial Design yang dibuat oleh mahasiswa semester 4 yang bekerja sama UMKM lokal di Surabaya dengan Pemerintah Kota Surabaya menggunakan Batik Surabaya.

Atas hal tersebut,  fashion show ini pun dibuka langsung oleh Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi. Dia berharap kolaborasi antara Universitas Ciputra dengan Pemerintah Kota Surabaya tidak berhenti di sini saja melainkan tetap berlanjut untuk memajukan Kota Surabaya.

"Saya merasa desainer-desainer dari ciputra ini sangat luar biasa karyanya, dan desain batik seperti ini mungkin bisa digunakan oleh masing-masing dinas yang ada di kota Surabaya," ungkapnya.

Sementara itu, Dosen Universitas Ciputra Yoanita Tahalele yang merupakan pembimbing acara mengatakan, bahwa mahasiswa telah mengusung tema yang sesuai dengan penelitian yang mereka lakukan terhadap masalah-masalah sosial terkait fesyen, yang ada di masyarakat.

FPD Universitas Ciputra
'Fashionology' FPD Universitas Ciputra

Tema inti dari acara ini  ternyata merujuk pada beberapa isu penting, seperti masalah limbah dalam industri fesyen, isu yang menyoroti konten lokal seperti wastra dan pelestarian budaya, serta isu sosial mengenai kesetaraan gender. 

"Saya bersama Enrico Ho selaku pembimbing menekankan tiga hal yang perlu diperhatikan oleh mahasiswa, yaitu konsep desain yang mampu menjawab tantangan dan permasalahan yang ada, kreativitas dan inovasi dalam desain, serta aspek komersial atau bisnis dari produk yang mereka ciptakan. Kami berharap dapat mendidik mahasiswa untuk menciptakan peluang usaha baru dan mengadopsi pola pikir kewirausahaan dalam menciptakan nilai dan makna di tempat kerja mereka di masa depan," papar Yoanita.

FPD Universitas Ciputra
'Fashionology' FPD Universitas Ciputra

Ditambahkan oleh salah seorang mahasiswa yang memamerkan koleksinya, Audrey Gabriella mengaku mengusung konsep sustainable fashion dengan memanfaatkan limbah kulit sisa produksi. Persembahan karya Audrey ini, baginya merupakan upaya untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh industri kecil dan menengah di bidang aksesoris kulit, yaitu limbah sisa produksi.

Baca juga:   Tim Akademisi Berhasil Mengubah Limbah Padat Menjadi Produk Kece

Karya yang dipamerkan Audrey bernama Rögn. dalam karyanya ini ia mengolah limbah kulit dengan menggunakan teknik anyaman bermotif ‘houndstooth’   hingga menjadi produk pakaian yang memiliki nilai komersial tinggi.

Melalui karya ini, ia menggunakan teknik anyaman karena dianggap bersifat abadi dan tahan lama. Tak hanya itu, penggunaan limbah kulit dalam teknik anyaman ini, dianggap dapat memanfaatkan limbah dengan ukuran yang sangat kecil, sehingga diharapkan koleksi ini dapat menjadi solusi dalam mengurangi limbah kulit sisa produksi.

Elisabet Stefanny Witjahjo dalam acara Fashionologi ini, juga mengusung koleksi yang berjudul 'Disruption' dengan menggunakan limbah denim sisa produksi. Karya ini menggunakan limbah denim sebagai bahan utama yang diolah menjadi manipulasi kain dengan teknik weaving, pintuck, dan slashing cut untuk menciptakan pola dan detail yang kuat. Pada proses eksplorasi yang diterapkan, ditemukan alternatif panel seperti Box Panel, Curves Panel, Princess Panel, dan Yoke Panel.

"Karya ini dimaksudkan untuk menghasilkan produk dengan nilai komersial tinggi dan sekaligus memberikan solusi bagi industri tekstil dalam mengolah limbah denim serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang konsep sustainable fashion. Kain limbah denim yang dsaya ambil ini dari sisa produksi industri gamen Triple Jeans," ungkapnya.

Selain itu terdapat juga Karya Hillary Liem yang menarik perhatian karena mengangkat konsep budaya, khususnya budaya wayang. Hillary mengaku, menyadari bahwa perkembangan zaman dan arus globalisasi telah membuat generasi muda mulai melupakan kekayaan budaya Indonesia, termasuk budaya wayang.

 Hillary  mengaku terinspirasi oleh tokoh binatang pewayangan Sang Hyang Antaboga, dia menciptakan sebuah koleksi busana pesta khusus yang menggunakan teknik wearable sculpture.

Dalam proses perancangannya, kepala tokoh Antaboga yang berbentuk naga didekorasi dengan mahkota dan hiasan telinga Wayang menggunakan teknik kerajinan besi filigree yang dibuat oleh pengrajin lokal secara handmade.

Baca juga:   Jadi Model Dadakan, Wali Kota Surabaya Ery Cahyadi Catwalk di Fashion Show 'Fashionology' FPD Universitas Ciputra

Sementara itu, pada  bagian badan dan ekor tokoh Antaboga, digunakan manipulasi kain yang telah dilaser cutting membentuk sisik dan ekor, kemudian dipasangkan satu per satu seolah-olah melilit badan penggunanya.

"Koleksi ini juga memiliki penambahan bordir yang membentuk selendang merah dan sayap, yang menjadi ciri khas dari tokoh Sang Hyang Antaboga sendiri. Dengan karya ini, saya berharap dapat melestarikan budaya wayang Sang Hyang Antaboga dengan sentuhan modern, namun tetap mempertahankan ciri khas budaya dari tokohnya," jelasnya.

Selain Hillary, ada karya dari Natasya Cornelia yang mengangkat masalah ketimpangan gender dalam karyanya. Pada masyarakat dan budaya terkait dengan struktur seksualitas, seringkali membawa stereotip gender yang erat kaitannya dengan penampilan.

Berkaca pada stigma terhadap pria yang berbusana feminin masih kuat dan terkesan melanggar norma budaya. Namun begitu, dengan semakin meluasnya pergeseran budaya, masyarakat kini memiliki lebih banyak kebebasan dalam berpenampilan, termasuk dalam fashion kontemporer yang membebaskan diri dari identitas gender.

Rancangan Natasya ini diberi judul "Carte" mengusung gaya avant-garde kontemporer dengan konsep merombak stereotip maskulinitas tradisional dalam busana pria. Koleksi ini bertujuan untuk menciptakan tampilan fashion high fashion dengan gaya berbusana yang isyarat, kreatif, dan berani dalam mengekspresikan diri seperti sehelai kertas kosong, serta untuk melihat fashion bukan sebagai sesuatu yang terkait dengan gender tetapi sebagai bentuk ekspresi diri yang fleksibel.

"Pada perancangan koleksi ini saya menggabungkan elemen desain maskulin dan feminin dengan seimbang. Pendekatan ini tidak hanya melibatkan teknik keterampilan kerajinan tingkat tinggi, tetapi juga sebagai demonstrasi dari pemikiran, pengalaman, persepsi, dan emosi individu. Karya ini menerapkan konsep yang mampu mengatasi masalah sosial, seperti kebebasan berekspresi, kepercayaan diri, dan kreativitas dalam berbusana," ucap Nastasya.

Baca juga:   Korean Market Pertama dan Terbesar di Surabaya: Event Spektakuler yang Tak Boleh Dilewatkan Local Brands

With Laruna, you can combine your love for fashion and the planet by choosing sustainable options that fit your style and contribute to positive changes. Want to join Laruna as a content contributor? We'd love to spend time with you!

Reference: 
https://surabaya.tribunnews.com/2023/06/04/fashion-show-fashionology-fpd-universitas-ciputra-wali-kota-surabaya-eri-cahyadi-turut-jadi-model
Copyright © 2023 - Style by Laruna - All rights reserved
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram